SPIRIT PATRIOTIK

: Kado SKM untuk Bekasi
 Oleh: Irman Syah
MENGENANG masalalu tentu saja erat hubungannya dengan kenyataan masa kini: anasir apa pun yang ada di masalalu akan selalu hidup dan menggelora baik dalam bentuk zat dan sifatnya di masa sekarang. Semua akan muncul ke permukaan dan memperlihatkan gejala serta fonomenanya tersendiri dalam keseharian kehidupan kemanusiaan.


Begitulah alam mengajarkan dengan bahasanya melalui kenyataan. Beragam jenis dan bentuk yang sengaja diciptakan oleh Penguasa Alam Semesta merupakan guru yang tidak pernah lelah bagi kemaslahatan manusia. Semua itu dapat diambil manfaat dan tujuannya. Analogi ini dapat dijabarkan melalui ‘rasa’ dan ‘pikir’  manusia dalam memaknai keseharian kehidupan bermasyarakat yang melingkupi agama, budaya dan tradisi kehidupan manusianya.

Begitu pula halnya sebuah kota, ia terbentuk dari beragam peristiwa dan solusi. Letak geografis, perjuangan, dan kesatuan pandang telah menjadikan sebuah  kota berdiri tegak dengan tatanan yang telah disepakati sebelumnya bagi para pendahulu negeri: adat, sopan santun, tenggang rasa, setia kawan, menyatu dalam sebuah kekuatan. Sebuah ‘tali’ persaudaraan dibentangkan sebagai garis kesepakatan untuk memancangkan kesatuan.

Perkembangan zaman, kemajuan cara pandang, pengaruh kenyataan yang datang dari luar telah membangun kebimbangan dan perpisahan. Gaya hidup komunal berubah personal dan mengarah pada indifidual. Dasar dan tapakan lama yang pernah dipancangkan jadi kabur karena terlindas roda zaman yang berlalu-lalang. Tegur sapa terasa jadi mahal: sikap hidup semacam ini seakan mempertegas jarak. Perbedaan jadi mengemuka dan janganlah sampaii pada pertikaian.

Kalau ditilik dan kemudian ditimbang-timbang: terasa benarlah makna kehilangan. Kenyamanan dan persaudaraan seakan lepas dari genggaman. Pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita jadi kesepaian begitu saja. Semua seakan berjalan sendiri-sendiri. Tak terbayangkan, jika kekuatan lama yang telah dipancangkan dengan kesungguhan dan ketulusan dari keragaman (suku) itu – karena perubahan yang katanya perkembangan – kehilangan buhul dan lepas dari ikatan. Hal semacam ini tentulah sesuatu yang tidak diidamkam.

Salah di ujung kembalilah ke pangkal jalan: idiom lama ini adalah nafas baru kehidupan. Tarik dan lepaskanlah bagus-bagus. Berangkulan dan saling mendengar debur dada adalah kedamaian: api inilah spirit perjuangan, kekuatan tak berkira dan perbedaan adalah kekayaan penuh makna dari Yang Mahasegala. Chairil Anwar dan Pramodya Ananta Toer pun telah melahirkan anak ideologisnya di daerah ini, maka di keluhuran jiwalah ketulusan berkaca.

Perjalanan dan waktu mengguratkan kehidupan masyarakat dengan segala seluk-beluknya: raut kenyataan itulah yang merupa ke permukaan. Semua adalah citraan yang bisa ditafsirkan dengan beragam kata dan ungkapan: Selamat Ulang Tahun ke 15 Kota Bekasi. Bangunlah kegairahan patriotis kemudaanmu: spirit itu percikan api yang menggelorakan jantung dengan detak yang sama.  Dia kan selalu setia menegurmu lewat sapa mesra di debar dada.
RoKeS, 8 Maret 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI