Membangkit Batang Terendam

Oleh: Irman Syah

SEBUAH KEKUATAN yang amat menentukan kejayaan suatu daerah atau negeri adalah bahasa. Dengan bahasa semua ucap mengalir, semua ungkap terpapar. Kata akan menjadi panutan dan orang lain akan cepat tersentuh hatinya  dengan kelemah-lembutan tutur kata. Begitulah, maka adalah benar idiom lama yang telah memancangkan bahwa; bahasa menunjukkkan Bangsa.


Judul di atas sengaja diangkat dan dibangkitkan: laksana perantau yang kembali pulang ke kampung halaman. Dia menjadi tokoh yang diperhatikan. Apalagi kepulangannya adalah sesuatu yang amat berarti bagi kampung halamannya. Masyarakat akan membawanya seiring-sejalan, seiya sekata karena keberartian yang dimilikinya untuk membangun negeri tercinta.

Dari Sastra Kalimalang perlu dibangkitkan kekuatan, laiknya judul di atas: Membangkit Batang Terendam. Idiom ini mungkin tak begitu akrab lagi bagi kita hari ini, karena gedung, rumah dan bangunan lainnya sudah didirikan dengan bahan batu-batu dan besi, kemudian pasir, semen dan bata. Namun, dengan mengungkap pepatah lama ini kita akan dapat mengenang kembali hakikat dan fungsi sesungguhnya tentang tiang pokok kebudayaan di masalalu.

Kalaulah batang yang terendam diangkat kembali, dengan kata lain; sebuah pohon yang direndam di dalam air, dihimpit oleh lumpur sekian lama dijadikan bahan untuk bangunan rumah -- seperti yang dilakukan masyarakat di masa lampau -- tentulah akan menjadikan bangunan itu kuat, kukuh dan tahan terhadap berbagai ancaman. Tak satu pun rayap yang mampu memakan dan menggiriknya. Sebagai contoh dapat dilihat dari kayu dan tiang bangunan tua yang masih berdiri, atau rumah bekas kolonial yang masih berfungsi dan dapat digunakan hari ini.

Dengan analogi semacam ini dapatlah ditilik kembali kekuatan bahasa yang telah menjaga tatanan kehidupan masyarakat melalui medianya yang antara lain adalah kesusastraan. Kandungan karya sastra lama ini, atau puisi lama dalam bentuk pantun, syair, gurindam dan lain sebagainya akan selalu dapat mencerahkan jiwa. Di dalamnya ketenangan mengalir karena nilai-nilainya yang berkelindan.

Kekuatan pantun, atau ‘situn’ (puisi-pantun) di Bekasi, seperti yang hari ini ‘eksis’ di halaman‘Sastra Kalimalang’ adalah usaha semacam itu. Situn adalah sebuah kecerdasan, selain makna dan kandungannya merupakan sesuatu yang kontekstual dan mampu mengusung nilai. Ini pun juga merupakan sebuah kesiagaan, atau siaga seketika untuk berbahasa dalam menangkap gejala. Pikiran semacam ini akan dapat dilihat dari karya-karya Guntur El-Mogas, baik dalam bentuk buku atau perca ‘Situn’-nya di kolom Sastra Kalimalang. Selain Kong Guntur, karya semacam ini juga dapat pula dilihat dari karya-karya Ridwan Fauzie atau dengan nama penanya Er Fauzie.

Demikianlah kini yang tengah terjadi di Bekasi. Sesuatu yang telah diusahakan kembali. Pantun muncul ke permukaan dari penulis-penulisnya yang notabene dari para pendidik. Hal ini perlu dipertahankan kehidupannya dalam berbagai bentuk kegiatan apresiasi sastra di kelompok-kelompok kesenian atau pun di  sekolah-sekolah. Bagi calon penulis lainnya, kekuatan lokal semcam ini pun amatlah penting untuk dibangkitkan, biar kekuatan karya mampu mengalirkan nilai-nilai: laiknya membangkit batang terendam.
Bekasi, 1 Maret 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI