'Chairil Anwar Mati Dibunuh..'

Keinginan merdeka dari 'spirit' Chairil Anwar, termasuk merdeka dari Ida adalah indeks yang tidak dapat ditawar-tawar: manusia mesti merdeka dengan bangsanya yang berkepribadian dalam kebangsaan ala Humanis Universal hingga hari ini masih saja berhadapan dengan benturan yang melelahkan..
Keberpihakan ke negeri tercinta  memaksanya untuk memilih hidup. tidak mau mati: "aku ingin hidup seribu tahun lagi...!".  Spirit ini merupakan jangkauan yang begitu jauh,  lompatan yang mampu memperkirakan kenyataan ke depan, bahwa negeri ini masih belum siap untuk memberikan kemakmuran bagi rakyatnya.

Chairil telah mengucapkan dengan lantang. Kalimat hanya menjadi kalimat saja, tak pernah jadi patokan bagi kenyataan : rakyat tetap morat-marit... Pengangguran dan penyempitan ruang-gerak di Gelanggang-gelanggang dan Kantong Budaya lainnya telah membuktikan bentuk nyata. Chairil mati, dia mati dibunuh oleh sebuah pengkultusan. Akhirnya orang cuma ingat namanya bukan karya yang dia ciptakan.

Memang, sungguh tak banyak yang tahu, apa pentingnya 'puisi' atau 'penyair' yang telah melakukan sesuatu lewat apa yang diciptakannya. Akibatnya, Chairil hanya kamuflase saja bagi kekuasaan untuk menyatakan bahwa dia (Chairil) adalah "tokoh" dari sebuah "Angkatan" yang disebut 45.

Apakah akan tetap dibiarkan hal semacam ini terus berjalan dengan sebuah dinding yang teramat tebal. Jangan! Kasihan generasi mendatang yang nantinya takkan bisa lagi mengenal sejarah kehidupan dan perjalanan hidup 'manusia Indonsesia' yang begitu berarti bagi bangsa. Jangan biarkan spiritnya lenyap begitu saja karena pengkultusan.

Chairil Anwar, mati dibunuh: Dia dibunuh oleh kultus, kekuasaan, kebijakan yang tak lagi mengakar dan berpihak pada bangsa dan kultur-kulturnya. Wah.. Negeri ini kian hari kian remuk bagai kerupuk: Ya! Hati-hati. Awas! Negeri ini rawan rencana, musang berbulu ayam.

Mari, taburkan cat di jalan raya, Gedung Pemerintahan, Bandara dan Dermaga: agar negeri ini berganti warna, membangun negeri bertonggak kemanusiaan.(Irman Syah)*

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI