Kembali ke Matasastra

Oleh Irman Syah

KALAULAH SASTRA cuma bahasa yang indah tentulah maknanya jadi menyempit. Cara pandang semacam ini akan membuat masyarakat dihadapkan pada persoalan yang cuma kulit, sesuatu yang menjauh dari isi. Hanya bermain dipermukaan. Sementara ‘buka kulit tampak isi’ telah menjadi idiom lama yang kuat dan perlu disigi, serta dihidupkan kembali agar pemaknaan tentang segala sesuatunya menjadi terang, jelas dan terbuka.
Demikianlah pembuka kata kali ini agar kebermaknaan persoalan bisa terjangkau dan diketahui oleh masyarakat kalangan bawah, yang terpinggirkan oleh dominasi kepentingan sepihak dari kekuasaan. Untuk hal semacam ini diperlukanlah berbagai informasi, pendekatan dan ilmu pengetahuan yang sederajat dengan kapasitas mereka. Kesusastraan adalah salah satu jalan yang menerangi wilayah tersebut. Ini dimungkinkan karena sumber sastra itu adalah masyarakat itu sendiri.

Sumber ini dapat dilihat dari dua sisi: pertama yang mengahasilkan karya itu adalah manusia yang notabena warga dari masyarakat, sementara yang kedua; karya itu sendiri tentulah diilhami oleh kejadian atau kenyataan persoalan yang melingkupi manusia dalam kehidupan masyarakat keseharian. Artinya, akar kesusastraan yang sesungguhnya telah menubuh dalam kehidupan. Kenapa? Budipekerti dalam kehidupan manusia sebagai muatan yang menjadi kandungan kesusastraan tentulah akan mampu menjadi titik tolak penilaian yang ukurannya tak lepas dari manusia dan kehidupan: manusia dengan kemanusiaan, hidup dengan kehidupannya.

Kesusastraan akan selalu berusaha membahasakan persoalan kehidupan dengan ‘dada’: sesuatu yang telah berdialektika dengan rasa dan pikir, kemudian berubah karya yang menjadi bahasa batin sebagai hasil sintesanya. Di sini letak perbedaan sastra dengan berita-berita yang hari ini amat merajai pikiran manusia. Malah, berangkat dari berita itu kebanyakan penentu kebijakan mengambil keputusan dan tindakan serta menjadikannya program-program kemasyarakatan.

Dengan begitu, tak ayal lagi kesusastraan telah jauh tertinggal, dengan kata lain meninggalkan kenyataan masyarakatnya dan pada akhirnya berfungsi sebagai hiburan saja, layaknya industri. Dengan banyaknya karya sastra yang muncul ke permukaan dari beragam kehidupan manusianya maka makna yang terkandung di dalamnya pun akan mengapungkan gaya hidup ke permukaan. Kenyataan semacam ini telah terjadi begitu saja dan juga berterima dengan kalangan yang menghidupinya: tak lain kalangan dari kelompok penulis sastra tersebut. Sebutlah jaringan pasar yang mereka ciptakan lewat jaringan sosial tertentu. Akhirnya karya itu menjadi elitis, dibaca oleh kalangan sepihak dan dominasi fungsinya mengarah pada kemunculan nama-nama dan bukan makna-makna dalam ‘K’ capital (kesusastraan).

Berangkat dari kenyataan ini sastra mulai tercerabut dari akarnya. Karya menjadi terlepas begitu saja dari kehidupan yang membentang dalam persoalan yang menghimpit di masyarakat. Keberpihakan sastra pada kenyataan seakan menghilang begitu saja. Yang muncul hanyalah gaya hidup semata yang kehilangan dasar dari nilai kebudayaan dan lingkungan. Begitu juga dengan kenyataan seni lainnya semua seakan mengarah pada persoalan personal dan individualistis: mengangkat tema personal yang mengawang dan tak menghidupi apa-apa kecuali promosi penulis/pekerjaseninya sendiri untuk kepentingan tertentu serta popularitas semata. Sementara budipekerti yang menjadi nilai dasar kebudayaan dalam lingkup kehidupan kulturan yang dinamis merupakan ‘matasastra’ itu sendiri. Dari sanalah semua nilai bermula: jangan biarkan patokan dasar yang merupakan cermin kehidupan kesenian itu menjadi kesepian, tertinggal, dan tak berteman.*
Bekasi, 26 Januari 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI