Puisi dan Realitas yang Puitik


Oleh: Irman Syah



Awalan:
Sesungguhnya jauh lebih puitik kenyatan hidup di negeri ini bila dibandingkan
dengan makna puisi yang diciptakan.
Apabila mampu lahir puisi, maka adalah benar bangsa kita kukuh dan masih
mengagungkan bahasa, nilai, dan akal budi..

Adalah sebuah kenyataan, puisi itu mengada dan terus ditulis! Begitu banyak yang menulis dan mengungkap serta menyebutkan kata dalam hal membilang-bilang kenyataan. Pembilang dan penyebut tentulah suatu yang matematis dengan keadilan pembagiannya: sebuah bagian kehidupan yang dikristalkan ke dalam kata, kalimat, alinea, lewat diksi, larik dan bait, rasa dan pikir, kenyataan dan impian yang terus mengelana ke ujungnya.
Banyak usaha dalam merangkai kata jadi puisi sebagai buah ungkapan ekspressi lewat kreativitas berbahasa yang mengkristal, yah sebuah puisi: Sebuah kenyataan yang diungkapkan secara puitik dan tentu saja lahir dari sensitivitas kedirian dan kepekaannya dalam menangkap realitas, kemudian menyerapnya ke dalam dunia batin, dan kemudian melahirkan ‘mahkota bahasa’ yang disebut kesusastraan.


Asep X-Door (AX) dan Yuki Sastradirja (YS):
Dua nama ini adalah penulis puisi yang jadi teman berbagi di PKP Planet Senen kali ini. Mereka telah menjadikan puisi sebagai media untuk mengungkapkan ‘sesak-dada’ dengan cara mereka ketika melihat dan menikmati kehidupan di negeri yang Gemahripah loh jenawi dan berubah warna ini. Karya mereka menjadi bahan utama bagi kita untuk berdialog dan melihat puisi sebagai sebuah karya yang mereka ciptakan dengan keuniversalannya tersendiri.

AX berusaha mengungkapkan karyanya dengan diksi dan gaya bahasanya yang sedikit bersahaja serta menghubungkan ragam peristiwa dan itu dengan barutan dada, sementara YS mengungkapkan karyanya dengan caranya yang tersendiri pula: melabrak bahasa untuk mengusung makna. Keduanya sama-sama mengangkat tema 'urban' dan seluk-beluknya, protes tentang keadaan, cinta tanah air serta tuntutan kepada Peguasa yang mereka rasa tak secuilpun memikirkan rakyatnya.

Berhadapan dengan kondisi sosial di negeri ini, keberpihakan penguasa negeri yang tidak pada tempatnya telah membuat mereka sama dan sepikiran untuk melancarkan protes terhadap keadaan. Tentu saja protes ini bukanlah protes biasa yang alakadarnya saja, melainkan lewat ‘mahkota-bahasa’ yang diciptakannya. Hal lain yang juga menarik dari kedua penulis puisi ini adalah kesamaan pandangan mereka terhadap buruh dan majikan meski pun pada endingnya terasa ada perbedaan: AX, melihatnya dengan kedekatan dan gemuruh jiwa yang mengarah ke dalam, sementara YS mengucapkannya lepas dengan kesinisan. Tapi, keduanya tetap punya keberpihakan yang sama.

PENGUCAPAN:
Dalam menyampaikan gagasan karya banyak hal yang menentukannya. Artikulasi dan penyampaian makna tentulah sesuai dengan sistematika bahasa penulisnya. Hal ini juga didukung oleh sistematika pikiran bahasa yang dimiliki oleh keduanya. Kajian ini akan mengarah pula pada latar belakang kehidupan dan budaya yang melingkupi serta melahirkan mereka. Pembahasan ini tidaklah akan sejauh itu karena pertemuan kita merupakan silaturrahmi di bulan puasa atau tepatnya kongkow sastra.

Pengucapan puisi kedua sahabat kita ini memang terasa berbeda. Benang merah yang mempertemukan mereka adalah pemaknaan dan pemahaman yang sama pada realiatas: bagaimana perkembangan zaman yang cepat membuat pemahaman terhadap nilai jadi tidak seimbang. Time is money telah membuat manusia Indonesia menuhankan harga. Perebutan untuk mendapatkan uang sebagai alat tukar telah menjadi tujuan. Maka, dalam puisi kedua penulis ini korupsi tetap menjadi sesuatu yang perlu dibasmi dan diperangi dengan cara apa pun.

Asep X-Dor:
Asep lebih cendrung marah ke dalam dan mengadu ke ruang dada. Kedekatan pada do’a dan religiousitas membuatnya membiasakan diri mengurut dada. Puisinya sebagian besar mengarah pada puisi yang kontemplatif, tentu ini mengindekskan bahwa dia adalah orang yang suka merenung: menimbang-nimbang kenyataan dan secara diam-diam tega menyayat-nyayat jantungnya sendiri dengan nilai-nilai yang dia agungkan. Dengan demikian dalam karyanya banyak ditemukan symbol-symbol yang mengarah pada hal yang demikian. Perenungan memang mampu mempertajam kepekaan dan dari sinilah tulisan-tulisannya mengalir dan tercipta.

Yuki Sastradirja:
Yuki lebih cendrung memanfaatkan marahnya keluar, menghadangkan dadanya untuk menentang kenyataan dan terkadang dengan gaya yang sinistis. Dengan bahasa pun ia berani melabrak bahasa untuk mengusung makna. Kecendrungan semacam ini memungkinkan dia sering berada di lapang dan menatap kenyataan dan ketimpangan yang berlalu lalang. Dengan begitu, banyak ditemukan bahasa yang meloncat-loncat dan tak terkendali. Kronologi ucapan pun terkadang berbelok dan melompat. Sepertinya, Yuki juga termasuk aktivis sastra jalanan yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan lingkungannya.

Puisi dan Realitas Puitik:
Negeri ini terasa benar telah kehilangan bahasa. Kenyataan kehidupan manusia telah porak poranda. Semua orang telah menuhankan harga kebanding nilai. Kalaulah bahasa telah kehilangan makna tentulah bangsa kehilangan tuahnya. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa?

Jadinya, lebih puitik kenyataan kehidupan ini bila dibandingkan dengan karya puisi yang ditulis oleh penyair.Kenyataan begitu lebih eksperimental! Manusianya telah dijadikan eksperimen untuk menggantikan mesin-mesin yang tombolnya dikendalikan penguasa yang lupa akan nilai-nilai budaya. Peradaban entah hilang kemana? Tragik memang. Kalau boleh meminjam Istilah Iwan Simatupang, kenyataan telah menjadi tragik di atas tragik, atau tragik rangkap dua!

Dalam karya puisi yang ditulis oleh Asep dan Yuki sesungguhnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan: terutama bahasa. Pemakaian istilah yang dijadikan ‘diksi’ terasa sangat memenggal kelancaran pengucapan yang mereka bangun. Wacana ‘urban’ yang mereka angkat sudah tepat, hanya harmoni dan keutuhan komunikasi yang terkadang lepas-lepas.

Kekuatan mereka pada gagasan dan makna yang diembannya pantas dipujikan. Kreativitas mereka perlu dibina dan didukung. Memang sudah zamannya membangun ‘bahasa’ di negeri ini agar ‘citra’ mampu keluarkan dari keterpurukan nilai dan akal budi.

Akhiran:
Semoga pertemuan ini menjadi titik berangkat untuk memastikan sikap kepenyairan kawan-kawan kian matang. Saya jadi ingat saja apa yang dikatakan S. Sudjojojono: “Seniman Muda jadilah Lebih Kurang ajar dari Saya tapi Suatu Saat Kekurang-ajaran itu Membuat Anda Ditampar Janganlah Menangis.”
(Komunitas Planet Senen
22 Agustus 2010)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI