Irman Syah dalam Peringatan Wafatnya Chairil Anwar

Jakarta, Sinar Harapan - “Makam Chairil sekarang lebih terawat. Makamnya kini lebih tua dari rentang usianya. Terlebih lagi semangat berkarya Chairil menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya,” kata Ipur Wangsa, satu dari enam sastrawan yang pada pagi harinya sempat menziarahi makam penyair yang wafat pada 28 April 1949.

Pur, sebutan penyair yang juga menjadi salah satu panitia penggagas acara “Kongkow Sastra Planet Senen dan Chairil Anwar” mengungkapkan itu di sela pembacaan yang kemudian digelar di Planet Senen, Jakarta, Senin (28/4) malam. Acara malam itu dihadiri penyair antara lain Imam Ma’arif, Anya Rompas, Viddy AD Daery, Putri Miranda, Exan Zen, Retno Budi Ningsih dan Giyanto Subagio, dan diseling pembacaan biografi Chairil oleh Endo Senggono dari PDS HB Jassin.

Penyair “saluang” Irman Syah dalam orasi budayanya mengatakan bahwa pesan Chairil Anwar dengan petikan syair “kenang, kenanglah kami..” adalah amanah yang mesti dijalankan dengan makna luas. Menurut Irman, kata “kami” bukan berarti personal-individual, tapi lebih mengacu pada kondisi tragik yang dialami anak negeri dengan segala perjuangannya hingga hari ini, bagaimana berkehidupan dan berkemanusiaan yang layak di negeri yang kita cintai ini.

“Seperti halnya Picasso, atau Ankarn Klayanopang, penyair Thailand yang kuat di era ‘60-an, Chairil sudah memastikan dan membuktikan dirinya sebagai Chairil Anwar dan mengatakan ‘kata’ adalah ‘Kebenaran’,” ujar Irman Syah.

Terhadap Pasar Senen, Irman punya ulasan tersendiri: “Pascakemerdekaan Republik Indonesia, Jakarta menjadi pusat pemerintahan. Otomatis, menurut Irman, Jakarta menjadi sasaran utama seniman urban pada masa itu untuk mencapai kesuksesan. Waktu itu masa usai kejayaan Pujangga Lama, Pujangga Baru dan Angkatan 45 menjelang babak baru Indonesia, babak baru kesusastraan dan Kesenian modern Indonesia.
“Peran penting Pasar Senen terletak di jantung ibu kota telah menjadi guru kehidupan bagi para seniman. 

Tidak hanya sekadar karya sastra atau seni pertunjukan yang mereka alami, tempaan keras kehidupan pasar, serta situasi politik yang sering berubah hingga sampai pada tingkat wilayah inflasi ekonomi,” ujar seniman yang bersama Imam Ma’arif ikut memotori Komunitas Planet Senen (KoP’S) ini. (Sihar Ramses Simatupang)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI