Para penulis cerita pendek di majalah Anita
(kemudian menjadi Anita Cemerlang), yang popular tahun 1980-an bisa dibilang
merupakan “penulis kamar” yang dikenal orang ketika karyanya dimuat di media.
Begitu tahu dimuat, mereka membeli dan membicarakan dengan teman-temannya di
sekolah atau kampus. “Sudah saatnya kesan itu diubah.
Para penulis Anita masih eksis dan banyak yang
terus berkarya, dengan kualitas yang tak berubah bahkan bertambah. Tiba saatnya
“penulis kamar” itu tampil kembali dan menjadi “penulis panggung” atau komunitas”,
ujar cerpenis Kurnia Effendi di sela acara Sastra Reboan #12 di Warung
Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (25/03) kemarin.
Malam itu, di acara yang digelar secara rutin
oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) pada hari Rabu di akhir bulan,
sebanyak 25 penulis cerpen Anita datang dan mengisi acara. Aroma nostalgia
begitu kental dari para penulis ini, dengan jabat tangan, pelukan dan foto
bersama. Namun mereka tak sekedar bernostalgia, karena selain ikatan emosinal
yang begitu kuat juga keinginan untuk terus berkarya bersama, hingga akhirnya
membentuk Asosiasi Penulis Cerita (Anita) yang dipimpin oleh Kef, panggilan
akrab Kurnia Effendi.
“Saat ini sudah 140 orang yang terjerat datanya
dari seluruh Indonesia,” ujar Kef yang sudah menyiapkan serangkaian program
bagi asosiasi ini. Salah satunya dengan penerbitan buku antologi cerpen edisi
koleksi Anita Cemerlang, yang memuat karya 55 cerpenis seperti pertama kali
dimuat. Sedangkan menyambut Hari Kartini, 21 April karya 10 cerpenis akan
ditampilkan di salah satu majalah wanita.
Rendezvous Tema “Rendezvous” yang diusung
Sastra Reboan #12 rupanya mengena juga dalam kenyataan. Rendezvous dengan
sesama penulis tak hanya dinikmati para cerpenis Anita saja. Mereka yang hampir
setiap hari berbincang di dunia maya lewat Face Book juga mewarnai malam itu,
selain dari berbagai komunitas seperti kemudian.com, apresiasi sastra dan Bunga
Matahari. Seperti Andreas F.Wong yang baru saja datang dari Palembang atau Rory
Suryo yang keduanya tampil membaca puisi.
Maka begitu acara mulai bergulir, yang dibuka
dengan senandung lagu lama “Juwita Malam” oleh Budhi Setyawan dan Nina Yuliana
sebagai MC, lebih dari 100 pengunjung segera bertepuk tangan. Pembukaan yang
menyegarkan para pengunjung yang telah bersusah payah menembus macetnya jalan
di tengah guyuran hujan.
Penampil pertama adalah penyair Gemi Mohawk
yang membaca salah satu puisinya dari buku “Sirami Jakarta Dengan Cinta”. Puisi
terus mengalir. Mulai dari Khrisnapabicara, MC, Budhi Setyawan yang memang
penyair dengan karyanya “Pengasihan” dan “Malam Pertama”, Setyo Bardono yang
membawakan “Serangkaian Puisi Kereta” (gabungan 5 puisi digandeng kayak
gerbong, ujarnya) serta Andreas T.Wong yang baru saja datang dari Palembang
dengan puisi “Malin Kundang”, “Membela Diri”, “Pemilik Bumi” dan “Sebait
Waktu”.
Di tengah bergulirnya acara dan terus
mengalirnya pengunjung, diberikan door prize berupa buku karya Budhi Setyawan
dan Kirana Kejora. Penyair Slamet Widodo tampak datang bersama cerpenis Eka
Kurniawan dan Triyono Tiwikromo. “Baru rapat nih, mas”, ujar Triyono yang baru
pertama kali menyaksikan Sastra Reboan.
Sastrawan lainnya yang tampak hadir adalah
Yonathan Raharjo, Pakcik Ahmad, Imam Maarif dan Nuruddin Asyhadie Bengkel
Sastra Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kemudian tampil membawakan musikalisasi
puisi, salah satunya dari karya Radhar Panca Dahana. Mereka tampil pertama kali
di Sastra Reboan, seperti halnya Kartika Kusworatri yang membawakan dua
puisinya dan Tory Suryo dengan 3 puisinya.
Cerpenis, Ana Mustamin yang nama penanya Ryana
Mustamin kemudian tampil di panggung, tapi bukan membaca cerpen. Kali ini
sebagai Kepala Departemen Komunikasi AJB Bumiputera 1912 yang menjelaskan
tentang Lomba Penulisan Cerpen dan Lomba Penulisan Esai sebagai bagian dari
ulangtahun ke-97 perusahaan asuransi tertua di Indonesia ini.
Kedua jenis lomba itu diadakan bekerjasama
dengan PaSar MaLam. “Kami selalu peduli pada dunia kreativitas, termasuk tulis
menulis, seperti pada penyelengaraan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan
Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Kali ini Bumiputera mengajak para pecinta
sastra untuk turut dalam penulisan cerpen, dan para blogger untuk esai”,
ujarnya ketika ditanya Ketua PaSar MaLam, Johannes Sugianto dalam dialog
singkat di panggung.
Usai dialog itu, Kurnia Effendi langsung
didaulat oleh MC untuk memulai penampilan para penulis Anita. Dalam
pengantarnya, Kef mencatat tiga hal istimewa untuk Sastra Reboan kali ini.
“Pertama, ini acara keduabelas, artinya April mendatang genap sudah setahun
usia Sastra Reboan. Kedua, dengan peluncuran Lomba Cerpen dan Esai di sini,
PaSar MaLam sebagai komunitas yang baru lahir setahun lalu bergandeng tangan
dengan Bumiputera yang lahir 1912.
Seperti kakek dengan cucunya. Ketiga, para
penulis Anita berkumpul malam ini setelah Februari lalu sepakat membentuk
asosiasi”, kata Kef. Maka sang komandan ini lalu memanggil para penulis itu,
yang dimulai oleh Putra Gara dengan membacakan petikan novelnya, disusul
pembacaan puisi oleh Susy Ayu dengan “Isi Hati Laki-laki yang Mencintaiku”,
Reni Erina (Pada Suatu Ketika), Dony Indra (Ritus Larut Malam) dan Sutan Iwan
Soekri Munaf (Sayap Retak). “Grogi juga, mas. Makanya tidak jadi baca cerpen
tapi puisi saja,” kata Susy Ayu. Hal serupa juga dikatakan oleh Reni Erina yang
sudah 15 tahun tak pernah naik panggung.
Kemudian pentolan Komunitas Planet Senen, Irman Syah membacakan salah satu karya Sutan Iwan yang berjudul “Surat Pendek”. Pengarang novel “Ali Topan Anak Jalanan”, Teguh Esha juga membawakan puisi Sutan Iwan yang berjudul Mata Sepi dan puisinya sendiri Tembang Untuk Slamet Widodo.
(Sumber:https://money.kompas.com/read/2009/03/28/09072078/dari-penulis-kamar-menuju-penulis-panggung)

No comments:
Post a Comment
SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI