Dari Teks Tulis ke Teks Pangung

Oleh IrmanSyah
Suatu hari ada kawan-kawan yang berkomentar dan menilai apa adanya tentang event puisi, “Pembacaan puisi itu sesuatu yang membosankan dan selalu begitu-begitu saja..”

Entah kenapa, aku hanya terdiam dan tak berusaha untuk membantah, tapi ada yang bergolak di dalam batin: mengapa aku tak mampu berucap dan mulut ini berasa terkunci? Akhirnya aku hanya berusaha menenangkan diri...Memang, sampai saat ini belumlah ada format baku untuk melisankan puisi ke public. Pengamat kesusastraan seakan tak mampu merumuskan format pencarian-pencarian creator dalam pencapaian estetika puisi. Dan sejauh ini masih saja terhenti pada persoalan baca dan puisi, atau hanya sampai deklamasi, sementara perkembangan sastra (puisi) dan keinginanan penonton terlebih dulu punya harapan yang lebih tinggi.
Untuk persoalan di atas itu ternyata diperlukan usaha, pencarian dan penemuan format pembacaan yang tepat dan menarik bagi penonton. Andai hal ini tidak dapat ditemukan, maka puisi akan selalu menjadi hal yang menjemukan ketika berada di pangung. Selain itu, yang paling penting adalah kesiapan penyair dan pembaca puisi untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang kuat serta menarik. Dengan demikian akan banyaklah orang yang berusaha datang ke pertunjukan puisi, karena dia (penyair/pembaca) mampu membius penonton untuk terlibat di dialamnya. Penonton seakan masuk dan teralun oleh momen-momen puitik yang dikandung puisi itu. Selain itu, penyair memang sudah diharuskan paham dengan puisi yang akan dibacakannya, jangan pula malah tidak memberikan tawaran. 

Banyak penyair yang tidak serius menyiapkan puisi yang akan dibacakannya. Amat disayangkan sekali kalau penyair tidak bertanggung jawab dengan dunia yang dipilihnya. Malah ada penyair, saat ketika akan tampil saja baru memilih puisi yang akan dibacakannya padahal dia sudah diberitahukan sebulan sebelumnya. Hal semacam ini tentu akan menjauhkan puisi dari peminatnya dan yang menjauhkannya itu tak lain adalah penyairnya sendiri. kasihan.


Pendekatan kreatif
Berhadapan dengan puisi, ada beberapa hal yang membuat orang begitu terikat dan seakan menganggap begitu sulitnya. Apalagi puisi memang sebuah kristalisasi makna yang begitu kuat jalin-menjalin. Dengan begitu tak banyak yang mampu mendekatinya secara tepat. Pendapat demikian seakan memberikan hambatan bagi siapa saja yang ingin memasuki dunia puisi, apakah itu menulis atau pembacanya. Banyak orang yang akhirnya mundur untuk tidak memilih dunia ini. Tambahan lagi dengan puisi juga tidak banyak yang dapat dihasilkan dalam bentuk materi. 

Sesungguhnya ada beberapa hal yang perlu dijadikan sebagai bahan atau bekal untuk menghadapinya. Antara lain; bagaimana melihat puisi sebagai sebuah kerja keras kreativitas penyair dan oleh sebab itu diperlukan sebuah pilihan pendekatan yang tepat..Salah satu pendekatan yang menarik adalah menjadikan puisi itu sebagai gagasan yang dimunculkan penyair dengan bahasa yang tertata dan pilihan kata yang tepat. Peristiwa sebelum lahirnya teks puisi tertulis adalah gejolak yang mampu menggetarkan penyair dan inilah sesuatu yang perlu ditemukan terlebih dahulu. 

Dengan demikian momen-momen puitik akan bermunculan bagai kelip cahaya yang mampu melukiskan kata dengan rupa yang begitu uniknya. Puisi akan terlihat tajam bagai mata intan yang mampu memotong kaca. Tentu saja interaksi makna antara pembaca dan penonton akan menemukan tempatnya. Pendekatan kreatif adalah cara yang tepat untuk mendekati puisi. Dengan begitu akan ada keleluasaan apressian untuk menikmati puisi dan sekaligus mampu melahirkan kreativitas dalam mempertunjukkannya. Hal ini tidak akan lepas dari esensi puisi dan forrmat puitiknya. Kalau penyair dan pembaca puisi kurang mempertimbangkan hal ini, maka pertunjukan dan pembacaannya akan berubah menjadi bukan puisi dan terkesan performance-art. Pertunjukan jadi menonjol sementara puisinya jadi hilang. Ketika puisi kehilangan momen puitiknya otomatis hakikat puisi yang begitu tajam berubah ngambang.

Teks Puisi dan Teks Panggung
Ketika berhadapan dengan teks puisi puisi, gejolaknya akan bermukim di dada: puisi jadi hilang dan menyatu dengan tubuh dan rongganya. Kandungan puisi itulah yang akan diitumpah-ruahkan pembaca pada penonton. 
Ketika dipanggungkan, puisi sudah ada di panggung 50 % dan tinggal di tubuh pembaca 50% lagi. Maka pertemuan tubuh dan panggung memunculkan keutuhan puisi dengan momen-momen yang melingkupinya. Semua menyatu menjadi kekuatan komunikasi. Kesiapan semacam ini setidaknya menjamin bahwa penyair atau pembaca puisi telah menyiapkan komunikasi sacara maksimal.

Puisi itu Indah
Kalau ada pertunjukan yang paling indah, itulah puisi. Selain mungil dan padat, bahasa yang dipilih untuk karya ini amatlah padat dan kenyal. Dia akan mengalun bagai musik yang bisa menembus ruang-ruang tak berkira. Menyentuh rohani dan segala sendi di aorta jiwa. Durasi yang singkat membuat penonton tidak bosan. Andai penemuan dalam komunikasi puisi itu dapat terlaksana akan bisa dipastikan banyak orang yang terbius oleh puisi: syair tentu akan berubah sihir dan kemudian memukan penonton dengan kekuatan hipnotiknya. Banyak orang yang akan terkesima oleh kemampuan yang memang dicari sungguh-sungguh, dilatih dan ditemukan sebagai format yang tak lagi kadaluarsa untuk memunculkan kekuatan puitiknya. 

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI