Rumus Bahasa Tak Berasa

Oleh Irman Syah

Bila kembali pada ingatan masalalu yang menghadirkan bangku sekolahan, maka ada beberapa hal yang mungkin tak sempat kita cermati dengan sempurna. Terkadang, karena memang berusaha pada tujuannya saja maka proses untuk itu jadi terlupakan. Sebagai contoh, rumus rumus dari beberapa teori yang tercipta dan itu adalah sebuah perjalanan panjang dari relasi-relasi yang dipertemukan untuk memudahkan penemuan, atau hasil yang diinginkan.

Setelah rumus didapatkan – apakah itu rumus Matematika, Kimia maupun Fisika dan lain sebagainya  -- biasanya cendrung dihapal begitu saja agar gampang diingat untuk mencari dan menemukan hasil dari berbagai macam soal yang menuntut untuk dijawab dengan sempurna. Begitulah perjalanan pendidikan di masa sekolah yang menghasilkan lulusan-lulusannya. Dari semua itu kehidupan pun berjalan dengan apa adanya sesuai dengan mimpi yang dipuja.

Di balik semua itu ternyata ada yang tercecer, apalagi bila dihubungkan dengan proses komunikasi di masyarakat yang menggunakan bahasa dalam lingkup keseharian manusia.  Maka, di sini kita akan dapat menemukan beberapa hal yang sedikit sama dengan istilah atau rumusan di atas, tapi tentu saja dengan dampaknya yang berbeda. Ketika rumus itu dihapal, maka yang muncul kemudian adalah kemudahan yang mengemuka, tapi jarang sekali untuk dapat menghasilkan temuan rumus baru, kecuali tidak hanya hapalan tapi juga proses dari rumusan itu dihayati dengan kesungguhan.

Dalam berbahasa, terkhusus bahasa Indonesia yang tengah meradang ini, dengan sakit yang dideritanya atas banyaknya kata serapan yang diambil begitu saja dalam segala lini kehidupan maka dampak yang dimunculkan terasa sangat fatal. Terkadang hal semacam ini tidak begitu terperhatikan oleh banyak pihak, padahal ini sangat mengganggu dan merusak tatanan kehidupan berbudaya dan juga peradaban masyarakat negeri.

Tambahan lagi, ini juga diperparah dengan gaya hidup yang telah bercampur baur antara budaya barat dan timur serta dipengaruhi oleh begitu banyaknya media yang bisa diakses oleh masyarakat saat ini. Sementara, tahanan yang menjadi dasar untuk bersikap atau landasan yang mampu menciptakan filter dari apa yang nampak dan tengah popular itu tidak begitu disiapkan di bangku sekolah atau di rumah-tangga tempat mereka bernaung. Sekolah mengutamakan asahan pikiran dan di rumah pun mereka tak banyak kesmpatan dapat petuah dari orang tua tersebab kesibukan dengan kerja keseharian. Akhirnya, banyak hal yang menggejala dalam lingkup social yang cukup menyentak kenyataan.

Belum lama ini, di Ciamis Jawa Barat, seorang gadis dilemparkan oleh kekasihnya dari atas  jembatan setinggi 15 meter. Untung saja, dia masih bisa selamat dengan pertolongan masyarakat setempat dan tentu pula setelah bersusah payah mencapai tepian. Yang diketahui sesudah itu adalah, ternyata gadis itu tengah mengandung. Kenyataan ini sampai ke tangan kepolisian dan menangkap laki-laki yang merupakan pelaku dan sekaligus pacarnya itu. Kisah ini kalau dilihat melalui titik pandang bahasa maka akan dapat ditemukan beberapa hal sebab dari kenyataan yang dialami gadis tersebut.

Kenapa begitu mudah kejadian yang dialaminya? Maksudnya, kenapa begitu gampang remaja itu melakukan hubungan intim dalam kenyataan negeri yang berbudaya semacam ini? Salah satunya tentu komunikasi. Komunikasi semacam apa sesungguhnya yang membuat mereka terlanjur jatuh pada jurang maksiat itu. Nah. Bukankah istilah-istilah yang dipakai oleh anak muda hari ini telah meniadakan rasa. Kering dan berupa istilah, layaknya rumus-rumus. Dengan begitu komunikasi yang tercipta antara mereka  bisa saja terjalin komunikatif. Sebut saja istilah ‘jomblo’: rahasia pribadi yang dulunya tabu, kini telah biasa saja jadi bahan untuk berkabar.

“Lagi ‘jomblo’ nih..”. demikian sebuah status. Kalimat sejenis rumus, tak mengenal rasa yang mengakar dari dada ini telah jadi makanan empuk ragam kemungkinan. Apalagi dunia luar yang bebas begitu menggiurkan. “’ML’, yuk..”, demikian komen membalas. Respon ketemu. Cerita menjalar ke mana saja. Haha-hihi mulai menipu hati. Pulsa terisi, keluyuran, jalan kemana saja dan kemudian ketemulah kemungkinan dan kesempatan baru. Gaya hidup. Duh. Menyedihkan memang. Dekadensi memang terkadang muncul dengan diawali oleh bahasa. Kalau kenyataan semacam ini tidak diantisipasi, maka akan bagaimana jadinya generasi?

RoKe’S, 7 Mei 2015




0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI