Rumah-Rumah Kosong dan Kematian Kebudayaan

Oleh Irman Syah

“Ada asap ada api”, begitulah kalimat dari idiom lama yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita selama ini. Meski tidak dengan berpanjang-panjang kalimat ungkapan ini tidak begitu susah untuk dimengerti. Dengan mengungkapkan kalimat pendek yang cuma begitu saja komunikasi pun tetap dapat berlangsung secara tepat sasaran dan bahkan dengan penuh kelembutan.

Tak dapat dibayangkan bagaimana kemampuan berbahasa waktu itu bisa sampai pada capaian yang demikian. Kebiasaan membuat ungkapan tentunya penanda komunikasi yang patut dibanggakan atas kearifan bahasa. Dengannya, penyampaian maksud tertentu tidak perlu diucapkan  secara verbal, tapi tetap saja tidak akan kehilangan maksud dan tujuannya.

Melihat dan kemudian mengamati keadaan yang sesungguhnya untuk kemudian menyimpulkan hakikat menjadi makna dan selanjutnya mencipta bentuk melalui kiasan memang sebuah kecerdasan yang patut untuk selalu ditumbuhkan bagi pengucapan bahasa dan pemaknaan kehidupan. Tingkat peradaban manusia tentu akan bisa dilihat dari capaian semacam ini.

Andai kita melihat idiom di atas dari sisi lain, ya, kalau kita tidak melihat ‘asap’, maka ‘api’ pun tentu akan kehilangan keberadaannya. Bagai berkaca, kenyataan ini akan menghampar di depan mata. Bukankah adanya sesuatu tentu tersebab oleh sesuatu yang melatarinya. Kalau sesuatu tidak ada maka akan sulitlah untuk menilai kemungkinan akan keberadaannnya.

Hari ini, begitu banyak dapur yang tidak berasap di rumah-rumah. Atas nama kesibukan, karir dan lain sebagainya, maka di sebuah rumah akan banyak ditemukan dapur yang jarang  menyala. Artinya, makanan dan minuman dibawa dari luar atau dipesan dan diantar langsung ke rumah. Kebiasaan ini sesungguhnya telah mengubah citarasa keluarga. Selain itu, perkembangan generasi akan tercerabut dari akarnya karena mereka tidak banyak mengetahui proses memasak dan segala macam bumbu yang biasanya menjadi ciri khas dan asal muasal keunikan tradisi dan budaya.  

Ketika rumah hanya sekedar tempat tidur dan penghuninya tidak menghidupi rumah itu sendiri maka akan banyak perubahan yang tercipta dalam edukasi keluarga. Di sisi lain, pengenalan bahan, bumbu, serta protein dan zat yang ada dalam makanan pun menjadi terlupakan. Hidup menjadi teoritis belaka tanpa ada pengertian aplikasi di dalamnya. Adalah hal biasa saja kalau ada orang, atau generasi sekarang yang ditemukan keracunan makanan dalam keseharian kehidupan, karena mereka memang kadang tidak paham bahwa ada zat yang berlawanan di dalam tubuh dari makanan yang dia makan tanpa sadar.

“Ada api ada asap”, ya, begitulah kalimat dari idiom lama yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita selama ini. Meski tidak dengan berpanjang-panjang kata dan kalimat ungkapan ini juga tidak begitu susah untuk dimengerti. Tapi, kalau rumah sudah tidak berapi, maka kelam akan menggambarkan kekosongan dan kematian. Rumah-rumah kosong, telah meujudkan pemaknaan baru dalam kenyataan keseharian tentang kematian kebudayaan.

RoKe’S, 27 Mei 2015

2 comments:

  1. melongok musti sejenak
    rahayuuuuuuuuuuu
    rahayuuuuuu bang Gaek

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kembali Elek..

      Semoga baik dan sehat, tetap kreatif dan selalu tersenyum.

      Delete

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI