Mei, Sudahlah: Habisi Saja

Oleh Irman Syah

Sudahlah, jangan kau ceritakan lagi padaku tentang semangat, spirit atau keinginan maju yang  tanpa dasar itu. Tak ada gunanya. Selain menghabis-habiskan waktu, hati pun seakan mengeras batu karena mengidap sakit dan dendam. Sesungguhnya apa sih yang kau mau? Apa hanya sekedar mendaur ulang cerita untuk menumbuhkan simpati baru terhadap kebohongan yang tertata itu.  Aku takkan pernah mau. Sekali lagi kubilang: tidak!

Ini hanya negeri bayang-bayang. Takkan pernah menjadi sesungguhnya. Semua telah disusun dengan rapi, tidak hanya mereka, tapi juga kita. Mereka adalah orang yang memang setia dan sungguh-sungguh dengan tujuannya untuk merampok dan menghabis-kikiskan sumberdaya alam yang pernah diduduki nenek moyangnya ratusan tahun lampau, dan kita tentu saja masyarakat sebangsa yang berada di belakangnya untuk mendapatkan jatah sisaan.

Dalam pemetaan atau mapping apa pun, negeri ini tetap saja tercatat sebagai tujuan manusia di belahan dunia mana pun. Ya, kiblat dunia. Begitu banyak yang mereka butuhkan ada di tanah dan air ini. Mulai dari zaman behuela hingga sekarang takkan pernah kebutuhan itu berhenti dari diri mereka. Dan kita sendiri atas nama kepentingan pribadi dan kelompok mengorbankan orang banyak dari ragam bangsa untuk meluluskan dan membuka jalan lempang bagi mereka.

Picik memang. Kepala boleh sama, tapi pikiran berlainan. Iya, betul. Bisa saja begitu. Tapi, dalam hal ini sifat dan tabi’at ini tentu tidak bisa diterima. Perbedaan semacam inilah yang selalu menumbuhkan api dari dalam. Bagaikan api dalam sekam, asapnya saja yang kelihatan tapi permukaannya masih saja semacam sedia kala. Ya, bukankah ini berarti kehancuran. Pemusnahan pelan-pelan itu adalah kelicikan yang luar biasa dan tidak bisa diterima.  

Perjalanan panjang sejarah yang kabur, atau dikaburkan itu memang sangat membutakan. Apalagi yang bisa diucapkan perihal Mei. Sementara negeri ini semakin terjepit dan tersudut saja oleh permainan dunia yang sengaja diciptakan untuk kepentingan mereka. Dan kita ? masih adakah kita? Pertanyaan semacam ini menjadi lebih berarti ketika keributan jalan raya, tentang upah buruh dan apasaja, atau kampus-kampus yang dipreteli oleh kepentingan kelompok kekuasaan itu merebak jadi demonstrasi. Jalanan terhalang, transportasi macet. Kehidupan menjadi gerah. Masyarakat teraniaya. Emosi merajalela.

Persatuan atas nama kerajaan terus kemudian berubah republik, siapa yang paham hakikatnya? Inilah yang membuat yanga lain kurang paham tentang Mei. Sungguh Mei.. banyak yang mengagungkanmu dan kemudian menghilang begitu saja setelah remah-remah roti itu ikut dimakannya. Menjadi darah, menjadi sikap, menjadi darah-daging keturunannya. Menjadi apa ia sesunggunya bagi bangsa ini. Calo? Ya, bisa juga sih. Namun tak habis pikir, apalah arti hidup bagi segelintir orang semacam itu. 

Mei, maaf. Sori, ini hanya tulisan kecil saja tentangmu. Ya, tepatnya berawal dari sebuah ingatan kecil tentangmu. Tak banyak memang yang bisa dituliskan kalau cuma kebohongan dan hanya cerita perihal darah dan airmata. Senjata dan keserakahan. Perjuangan dan pengkhianatan. Atau apasajalah yang memang tak enak untuk dituliskan. Meski pun begitu, dada tetap saja akan dihadangkan bagi siapa saja yang tak benar dalam tindakan. Mereka atau kita sendiri yang menyalahgunakan wewenang untuk membuka kran bagi kehancuran. Ya. Tak ada kehidupan bagimu!

Sudahlah, jangan kau ceritakan lagi padaku tentang semangat, spirit atau keinginan untuk maju yang  tanpa dasar itu. Tak ada gunanya. Selain menghabis-habiskan waktu, hati pun seakan mengeras batu karena sakit dan sisa dendam. Ya, sudahlah Mei. Habisi saja: Jangan teruskan!

RoKe’S, 13 Mei 2015

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI