Negeri, Taman Sunyi dan Goa Batu


Oleh Irman Syah

Sengaja judul ini dipilih untuk mengingatkan asal-usul dan hakikat yang tengah bergerak dalam lingkaran kehidupan. Begitu banyak jalan dan jalur hidup yang tanpa disengaja telah berlaku begitu saja karena tidak disiasati sebelumnya dalam kesengajaan kenyataan diri oleh manusianyanya. Begitulah, waktu berjalan dengan kesengajaan matahari dan bulan yang tak pernah lelah menerangi kehidupan di bumi tercinta.


Di sebuah negeri, yang dulu katanya damai, kaya dan sejahtera telah berubah jadi pasar besar yang selalu mengajarkan masyarakatnya untuk membeli dan bukan menghasilkan: kunsumtif, dan bukan produktif. Semua bergerak saling mendahului untuk mengatakan pada dunia bahwa dialah orang kaya dan mampu memiliki apasaja. Artinya, cara pandang telah begitu saja berubah tanpa di sadari sebelumnya.

Jaringan-jaringan, akun-akun, telah mengubahah bahasa tanpa terasa luka. Tidak ada lagi kata mendaki, kata menurun dan kata ‘melereng’: semua jadi teman, kawan atau sahabat. Bapak, Kakek, Abang dan Nenek akan terikat pertemanan dengan anak, kemenakan, adik dan cucunya. Bergeraklah terus arus itu, membah ke mana saja. Personal, individual jadi mengemuka. Kekayaan kebersamaan mulai terguris oleh arus yang datang tanpa persiapan terlebih dahulu.

Di dada negeri, taman-taman kesepian. Tak ada lagi canda tawa, tegur sapa, atau sekedar melepaskan lelah dari keseharian kerja. Begitu sunyi taman terbentang, suram dan tak terpelihara. Terkadang fungsinya jadi berubah, tempat para brandalan berteduh sambil melihat mangsa yang lewat, padahal bangsa sendiri. Jadinya, kesunyian taman berubah stigma ‘rawan’ yang mengerikan. Ada rasa takut ketika melintas ke sana, karena memang tidak ada kontrol dan niat untuk memeliharanya.

Bagi mereka yang telah mengumpulkan harta dan merasa memiliki segala, mereka memasuki goa-goa batu, bercengkrama, mencongkel kulkas, mengeluarkan minuman bermerk dari luar negeri. Setelah itu mereka kembali ke rutinitas mengunjungi goa yang baru, tempat bekerja untuk menyusun strategi bersama lewat kepentingan golongan dan kelompok tapi selalu mengatas-namakan masyarakat rakyat. Begitulah, Sishipus itu menggulung kehidupan dan menjatuhkannya lagi ke pinggang kesengsaraan masyarakatnya.

Negeri, Taman yang sunyi dan Goa-goa batu itu adalah kenyataan yang membangun jarak: keterpisahan, atau jurang pemisah bangsa-bangsa dengan masyarakatnya. Andaikan ini berlangsung tanpa adanya upaya pemikiran dan rasa serta budi pekerti yang merajutnya menjadi kata untuk kemudian menyirami jiwa-jiwa kering tanpa nurani niscaya negeri ini  akan berubah menjadi robot raksasa yang menjadikan masyarakatnya keong-keong yang beragam. Lelet, lamban, dan tak punya kecepatan untuk berbuat dan memelihara diri dari keselamatan hidupnya. Membawa rumah ke mana saja. Terbirit-birit dalam gelapnya sakwasangka. Jangan-jangan telah meninggalkan negerinya sendiri. ***

2 comments:

  1. yukitakingdom@yahoo.com1 December 2012 at 06:46

    goa goa akan tetap menjadi goa goa
    tembokan bahasa beradu seperti antan dan alu
    rapalan hari menuju akhir masa menanti diujung jalan sana
    oh situan angkara murka....
    jadikan goa goa bagaikan neraka....
    surga menjadi fana....
    rakyat menjadi papa....
    karna kami tak pernah tau arti rasa disurga....

    ReplyDelete
  2. YUP!

    semua berkelana menuju entah..
    menungguh reruntuhan batu yang bakal menghimpit
    atas rasa periksa yang dikhianati
    sepanjang zaman..

    salam

    ReplyDelete

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI