Suara Kata: Harmoni Kota


Oleh Irman Syah

Untuk mengungkapkan suara akhirnya kita membutuhkan kepala dan rasa dalam rangkaiannya yang sempurna. Di sinilah letak kecerdasan dalam memilih yang sesungguhnya. Dia muncul mencitrakan diri. Padanya tempat seluruh resiko atau imbalan tulus bertahta: kadang kata itu pun tanpa disadari bisa pula berbalik arah menuding jiwa, atau berujud menjadi catatan perihal diri sendiri oleh dunia.


Ya. Kata adalah dunia: manusialah yang menyuarakannya sebagai tanda dan patokan serta tatanan bagi manusia lain di mana pun. Kecermatan dalam menemukan kata adalah suara kemenangan bagi kebudayaan. Dalam embanannya tentulah pertaruhan nilai yang tak sekedar bagi kehidupan kemanusiaan, yang selalu adil dan beradab sesuai sila. Kalau kalimat ini dilanjutkan kita jadi kian gamang sendiri melihat diri. Apalagi menatap negeri?

Begitulah. Bagi negeri sendiri, dalam lingkup dunia yang lebih kecil kita mesti mampu menyimaknya: oleh sebab itu kata semestinya ditemukan.  Kabar, dendang dan nada, ataupun patahan-patahan temponya akan membangun jeda yang mesti ditata, disulam-renda serta dirawat sepenuh jiwa. Satrawan me-nulis-kannya, pelukis/filmaker me-rupa-kannya, pemusik me-nada-kannya, penari meng-gerak-kannya. Demikian budaya membahasakannya.

Kata berseliweran membangun suara, menciptakan tindakan jadi kenyataan. Tolehlah dengan sedikit bersahaja, kembangkan lagi kitab sejarah: tilik lagi, detak hati semacam apakah gerangan yang mengemuka? Negeri urban cerminan kota, nurani katanya yang terpendam. Di hati yang kecil semua tersimpan, gelap dan terang kehidupan. Sebagai kota, suara itu muncul di keragaman, membahasakan petuah lama, membingkai khusyuknya doa. Ada yang berteriak kembali, ada yang menyeru maju: kemerdekaan ternyata kian membuktikan terang penjajahan.

Menimang suara menjadi kata, menyusun nada membunyikan bahasa adalah kilau tak terduga. Namun sayang, kehilangan demi kehilangan saja yang merupa. Kecamuk paham dan arogansi membahasakannya secara nyata. Kemanakah nurani kira-kira, bila harmoni tak terjaga. Mengeruk sehabis rongga, menyelam hingga ke dasar: di palung manakah kata-kata dan nada bersuara? Hanya dada yang mampu memaparkannya ditautan rasa dan atas kemuliaan kepala. Mahkota berpermata di puncaknya.

Berbijaklah menafsir ‘suara hati’, biar ‘suara’ itu mampu berucap jujur dalam melafalkan kata yang membutirkan nurani. Kejernihan adalah bahasa tak berhingga. Bila keruh yang menggejala berarti kita kehilangan bahasa: emosi, dendam, dan sakit hati hanyalah bujukan masa lalu yang belum nyata. Sebagai kota yang plural, jamak dengan keragamannya, tentu suara kian leluasa bersilang-sengketa dan keadilan akan berdiri di tengahnya: akar budayalah yang mampu  mengkomposisinya dengan sentuhan yang seksama. Begitulah suara menjadi kata dan hakikat harmoni yang dikandungnya:  Kesenian akan teramat indah mengucapkan spirit patriotiknya.**
KoP’S, 8 November 2012


0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI