Perjuangan (yang) Bersih


Oleh irman Syah

Kenapa ada ungkapan ‘Perjuangan yang Bersih’, padahal kata tak pernah salah? Ya, ternyata asumsi dan pikiran yang menjadikannya berubah makna. Semua tercipta dari paparan kenyataan dan akhirnya memunculkan ragam pernyataan. Secara tersirat, lahirlah ungkapan di balik itu, di ujung makna dan penekananya: ya, semacam ‘Perjuangan yang Tidak Bersih’, atau ‘Perjuangan yang Kotor’ muncul ke permukaan.


Mata yang sempurna akan selalu menilai dengan kebenaran. Coba bayangkan jika mata  hati tidak sempurna: pandangan, penglihatan, atau pengamatan, tentu akan menghasilkan sesuatu yang tak pernah persis. Ya, sesuatu yang berbeda, dan pada akhirnya menumbuhkan kelainan-kelainan yang menggejala. Ketajaman dan kelengkapan mata yang sempurna adalah pintu kesadaran. Kepastian ada di depannya. Dengan begitu, kemampuan untuk menemukan jalan yang tepat tentang makna ‘juang’ akan berada di genggaman. 

Mengenang perjuangan, mengingat usaha keras dan pengorbanan pendahulu negeri, semoga menumbuhkan kembali sikap patriotik yang pernah dimiliki bangsa ini dalam usaha kemerdekaan dan capaian kedamaian rakyatnya. Bukankah keadilan dan rasa saling menghargai sesama adalah impian yang luar biasa?   Karenanya, kembalilah pada simpul semula. Pulanglah pada ikatan kesamaan niat yang tulus: dan kejujuran ada di dalamnya.

Monumen, Patung, Gedung Joang, dan alun-alun pastilah akan menumbuhkan semangat patriotis: jaga dan bangkitkan kembali hakikatnya. Bangunan kesadaran demi keutuhan mata jiwa takkan pernah mempertengkarkan hal-hal ‘benar’ dan ‘salah’, ‘suci’ dan ‘noda’ serta ‘hitam-putih’ lainnya. Itu hanya pembeda dan cuma penting bagi yang bodoh: ya, bagi orang yang tidak memiliki kesadaran. 

Perjuangan adalah perjuangan! Lahir dan batin mengukuhkannya. Kalau tidak, barulah perbedaan muncul dan mengemuka Perjuangan jadi berubah makna. Berawal dari kepentingan (untuk) ‘besama’, berubah ke arah kepentingan  (untuk) ‘personal’ dan ‘kelompok’, dari perjuangan ‘kemerdekaan’ berubah ujud rupa jadi kepentingan ‘kekuasaan’ yang zalim. Duh, jarak dan waktu ternyata telah mengubah makna akan kata, patokan dan nilai berceceran diantaranya. 

Kalaulah kita mau bersahaja sedikit saja untuk kembali pada akar budaya -- bahwa kesenian adalah kebutuhan rohani -- maka terapi atas konflik akan terselesaikan. Kesenian adalah cermin semua itu: jabaran nilai yang membangun kesadaran ‘mata bahasa’ lewat mahkotanya.  Media pengukuhan sikap bagi ketepatan ukuran dan patokan nilai, serta menerangi hakikat  kenyataan yang dinamis demi keutuhan negeri atas pengaruh luar yang menggejala dan gelinjang kapital tanpa batas.
RoKe’S, 5 September 2012

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI