H. FREDIE ARSI:: Melihat tak Cuma Kulit, Membaca tak Hanya Judul

 Oleh: Irman Syah *)
Puisi adalah magnit yang menawan untuk dinikmati: komunikasinya lembut, indah, tajam, dan terkadang ngilu karena ada hal-hal yang tak terduga menyelinap di dalamnya. Membaca teks puisi kita seakan hanyut dan dialun-hempaskan oleh makna yang dikandungnya. Apalagi kalau mendengar atau menonton puisi yang dibacakan, alunan dan irama kata (diksi) yang terpilih itu jadi memikat dan sekaligus mampu mengajak jiwa kita mengelana lewat idiom  musikalitasnya.




Sentuhan demi sentuhan dari larik dan bait puisi akan mengantarkan irama dengan nada yang puitik melalui bahasa yang sarat makna ke ruang dada. Pendengar pun akan cepat menangkap sajian teks puisi yang dibacakan. Demikianlah sedikit banyaknya media percepatan komunikasi sastra sebagai buah karya para penyair kepada audiensnya.


Tersebab tidak semua penyair mampu membacakan puisinya dengan baik dan malah banyak yang terbentur dalam menaklukkan panggung maka muncullah Musikalisasi Puisi untuk menjembataninya. Jadilah genre ini sebagai penyambung lidah para penyair. Munculnya komposisi musikal lewat bahasa ungkap Musikalisasi Puisi membuat percepatan makna kian tajam, dan penonton tanpa sadar telah digiring oleh bahasa (musik) yang universal itu ke wilayah makna yang paling dalam.

Begitulah proses serta urutan pencapaian komunikasi karya sastra dalam bentuk puisi dengan dinamikanya. Melalui musikalisasi puisi, sosialisasi karya jadi terbantu dan puisi kian melebar penikmatnya. Usaha semacam ini bukanlah sesuatu yang mudah tapi bukan pula berarti sesuatu yang tak mungkin dilakukan. Keyakinan, ketulusan dan cinta mampu mewujudkannya.

Berangkat dari sinilah Papa (panggilan akrab) H. Fredie Arsi membangun konsep musikalisasi puisi dalam usaha mengajak generasi muda penerus bangsa untuk kembali menemukan karakternya. Apalagi dengan adanya usaha Papa untuk memasukkan unsur kesenian tradisi dalam garapan kreatifnya. Hal semacam ini semakin mengukuhkan eksistensi karya.

Bertemu dan berbincang dengan Papa Fredie Arsi adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan selalu dipenuhi beragam warna dengan suasana kekeluargaan. Banyak hal unik berupa pengalaman proses kreatif kesenian yang telah dilakukannya: sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Ya, nyaris sama dengan puisi. Seperti halnya kegiatan mengumpulkan anak jalanan, jagoan dan preman untuk melakukan latian teater. Di sini, seni telah dikembalikan Papa pada fungsinya: yaitu sebagai ilmu hidup. Logikanya pun masuk, bukankah kesenian erat hubungannya dengan kerohanian, maka lewat kesenian rohani manusia pun akan terisi oleh kelemah-lembutan budi pekerti.

Sesungguhnya hal semacam ini merupakan sesuatu yang sulit dan merepotkan tapi bagi seorang Papa cuma tantangan yang mesti diatasi dengan ketulusan. Suatu hal yang biasa dan malah mampu membangun kekayaan ekspressi dalam kesungguhan proses latian. Tak dapat dibayangkan, kegiatan latian seni ini pun dapat dijadikan alat untuk mengatasi persoalan di lapangan. Untuk hal ini suatu kali Papa pernah bercerita: kalau tak salah ingat, tempat latiannya di Jakarta Timur. Ada beberapa pemain wanita yang ikut latian Teater (Teater Matahari) sering diganggu oleh beberapa orang preman ketika  hampir sampai di tempat latan.

Lewat kecepatan berpikir dan kreativtas yang makro Papa menggeser tempat latian dari dalam ke luar, menghadap ke jalan raya: tepat berhadapan dengan kelompok yang sering mengganggu pemain wanita itu. Latian berjalan terus dan malah lebih bersemangat. Inilah saat yang tepat itu, beberapa pemain pria mengeluarkan keunggulan dan kemampuannya: ada yang bergerak silat, ada yang mempertunjukkan kemampuannya yang unik dan spektakuler seperti memegang gelas, minum dan kemudian mengunyak beling gelas itu sembari melakukan dialog yang ada pada naskah. Sementara, di seberang jalan penonton mulai ramai. Akhirnya, dengan rasa bersalah para preman itu pun ngacir satu-satu.

Inilah salah satu keunikan dan kenakalan kreativitas yang membedakan Papa dengan kreator seni lainnya. Panggungnya tidak cuma pentas tapi kehidupan. Ternyata bagi seorang Papa, kesenian atau Puisi adalah alat untuk memahami dan kemudian menyampaikan ilmu hidup bagi manusia dan kemanusiaan. Benarlah kiranya, Papa melihat tak hanya kulit dan membaca tak Cuma judul: dengan begitu kelengkapan dan pemahamannya terhadap hidup dan kehidupan jadi kian harmoni lewat usahanya membangun Deavies Sanggar Matahari sebagai genre seni musikalisasi puisi serta  Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia berdasarkan kekeluargaan, cinta dan ketulusan.

Jakarta, 15 April 2012
* ) Koordinator KOMPI DKI Jakarta

  









0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI