Jendela Tanda-tanda

Sebuah Monolog:
Hidup itu indah, kata Bapak.
Hidup itu nikmat, kata Ibu.
Indah..
Nikmat..
Hm.. hm..
Ibu, Bapak: 



hm hm..
Akhirnya, adalah aku
Menafasi kehidupan hari ini..

Aku,
Bayi yang lucu, kata Bapak..
Aku,
Gadis yang anggun, kata Ibu

Malam dan siang merambat
Menjalari perjalanan waktu..
Siul, kedipan nakal, dan ajakan
Nonton mulai mengalir
Diskotik, plaza, mall,
panggil-memanggil: 
aku sunyi
ngeri dan takut menatap
masa depan..

****

Dari jendela kehidupan itulah mataku menatap segala dan hati merasakan.. Celah demi celah atau kerlip lampu telah memunculkan cahaya yang beragam di ruang jiwa: terkadang menyilaukan, dan terkadang pula menikam jantungku yang kian berdetak..

Semua tak pernah kuungkapkan pada Ibu, pun tak kusampaikan pada Bapak.. Aku malu, ya, memang tidak semua pantas untuk diucapkan, pun tidak semua mungkin diungkapkan: terkadang pantas tapi tak mungkin, kadang mungkin tapi tak patut. 
Aku jadi bimbang..

Semua punya aturan, semua punya ketentuan, dan semua pun punya keharusan.. apalagi soal moral, sopan-santun, dan terlebih lagi soal laki-laki. Yah.. karena aku ini seorang perempuan..
Dari jendela itu, aku dapat belajar mengenai hidup: Menikmatinya dengan sembunyi-sembunyi dan aku pun bisa hapal kapan telepon berdering.. 
Kesenangan berlarian di depan mata, kenikmatan begitu wangi rasanya di tubuhku. Tapi, aku Cuma dapat melihat dan menatapnya di balik kaca serta menikmatii dan merasakannya melalui jendela..

Sementara, di layar Televisi, di chanel-chanel yang beragam, gambaran pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, terror dan perang kian terpapar dan malah berlaga keras dengan bursa saham..
Kengerian dan rasa takut itulah kini yang laku dijual, laris di pasar, dan semua mengeksplorasinya. Akibatnya, aku sendiri, gamang menatap masa depan: hidup menjadi bayangan gelap, kadang berupa momok yang teramat mengerikan, datang dan mengepung degan tirai hitam, bermata tajam bertaring runcing, haus akan tetesan darah dan selalu siap memangsa dalam ukuran detik.

Pernah kucoba ulang untuk merenungkan, kemudian memahami desir bagaimana angin berhembus, membayangkan gelora laut pada ombak, atau kumbang dan kupu-kupu di tampuk bunga: aku jadi cemburu.. semua membangun harmoni, tapi bagi diriku kecemasan demi kecemasan membangun ketidakpastian. Kegamangan mengundang kepiluan!

Aku makin tidak mengeri hidup!
Aku sulit menangkap makna.. 

Kata orang, hidup bukanlah kesendirian.. hidup membutuhkan kelengkapan: takkan lengkap hidup seorang perempuan tanpa ada seorang laki-laki di sampingnya, pun sebaliknya; takkan lengkap pula hidup seorang laki-laki tanpa ada perempuan berbaring di sukmanya.. begitulah amsal, begitulah analogi, permisalan, petuah dan ajaran.. Tapi aku? Aku sendiri.. Aku tak pernah bertemu laki-laki. 

Adakah laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Aku benar-benar tak mengerti..
Jadinya, aku hanya menemukan ketidakberartian hidup. Aku pusing! Pikiran melayang di kehampaan, selalu bertemu kelok dan simpang, duri dan lalang bergelimpangan. Cemas dan gamang menyeru pulang, tapi di manakah kepulangan? Terkadang.. terlintas saja di kepalaku untuk mati. Iya.. Mati saja! 

Aneh, kepalaku berputar-putar..

Aku tak sudi, aku telah hidup! Dan di jendela inilah kunikmati segala resah.. kupahami segala gundah dan gulana, tapi tetap saja selalu timbul tanda tanya. Tanda tanya ini kini semakin besar dan membesar.. 
Apakah aku telah benar-benar hidup?
Kalau jawabnya, iya.. aku rela!

Tapi aku malah ragu.. bimbang kian meraja!
Apalagi, sebagai perempuan aku belumlah lengkap!

Ya, karena sampai saat ini tidak seorang laki-laki pun mampu berbaring di hidupku..

Aku menyesal..
Marah dan kesal pada Ibu dan Bapak. 
Aku benci kelahiran..

Karenanyalah aku dipaksa melayari kehidupan. Tak berarah dan tujuan, tapi apa artinya sesal? Marah dan kesal? Benci? Seperti apa pula bangunan rupanya?

Akhirnya..
Jendela ini terpaksa kubuka dan kututup semau-hati. Terserah, meski pun setiap saat. Kadang aku berpegang pada kusennya.. ya, agar aku menyadari betul kedirian dan tapakan! Kutatap celah, kalau ada yang melintas mataku siap dan sigap untuk menangkap bayangan. 
Bila ada sosok yang pasti, aku akan segera melontarkan tanya. 

“Apakah anda sungguh telah hidup hari ini?” 
Tapi, entah kenapa tudingan datang susul-menyusul. 
“Kalau anda tidak mengenal hidup, lebih baik mati saja.. tapi jangan sembarangan mati. Mati pun membutuhkan pemahaman tentang hidup! Dan sebaliknya, dan sebaliknya..”

Aku terpukul..
Dengan cepat kututup jendela.. hampir saja tanganku terjepit oleh daunnya. Untung saja aku lekas dan sigap dengan reflek yang aku punya. Kutinggalkan jendela. Masuk kamar..
Di atas kasur, benar-benar kunikmati kesepian. Kutanggalkan seluruh pakaian, kulepas semua.. melompat, kutinggalkan divan, dan bergerak secepanya ke ujung ruang: berkaca, aku benar-benar bugil.. telanjang! Bagai kelahiran yang kubenci!

Kembali, aku tidur telentang di kasur. Mata tak bisa pejam, ingatanku melayang kembali pada kejadian: pertanyaan dan tudingan-tudingan di luar jendela. Kutarik nafas untuk tenang. Jendela telah kututup rapat, aku ingat betul, takkan ada yang bisa lewat atau mengintip meski sebintik celah..
Bantal begitu sabar meninggikan kepala, tetapi, dengan tiba-tiba dan begitu saja, dari kelopak mataku terasa ada yang mengalir.. makin lama makin deras, meleleh, begitu asin kucecap..

Sejenak, mengalir pula pikiran-pikiranku..

Andai aku tak pernah lahir, rasa sesal pun tentu akan berkunjung juga dan tentu pula datang timpa bertimpa:
Bukankah hidup punya banyak pilihan?

Aku seakan melayang, diri seakan di awang-awang. Terserah, mau dibawa ke mana diri? Dalam hidup, orang bisa saja memilih. Ada yang menjadi pelacur, polisi, presiden, banci, artis sinetron, pemulung, penyair, pengamen dan malah ada pula yang jadi-jadian: semua biasa-biasa saja..

Duh, tak terbayang pula bagiku penyesalan. Begitu bodoh! Sia-sia memilih mati. Begitu dungu, padahal hanya karena tidak mampu memilih, sementara badan telah dikaruniai hidup.

Hidup itu, memang indah Bapak..
Tinggal pilih.
Hidup itu memang nikmat Ibu..
Tergantung pilihan!

Dalam hidup kita memilih
dan pilihan punya tujuan..

Ya! 
Terserah pembubuhan tanda baca di belakang katanya..
Terserah..
Tanda apa yang akan dibubuhkan di belakang kata ‘indah’ dan ‘nikmat’ itu:
Apakah tanda tanya (?), seru (!), koma (,), titik (.) atau titik-dua (:), atau titik tiga (…).

Ya!
Ya, aku telah memilih dan akan membubuhkan tanda di belakang ‘kata’ indah dan nikmat itu karena aku telah menceritakannya..
(MarApi Production, JAKARTA 2010)

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI