Keraton Yogya Bertabur Puisi

 

Irman Syah FKy XIX 2007

SELAMA dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman.

Usai 'ritual' pembukaan, peyair Irman Syah (Jakarta) menggebrak dengan dendang puisi dan gerak randai yang memukau ratusan penonton. Kemudian tampil berturut-turut Hamdy Salad (Yogya), S Yoga (Ngawi), Wayan Sunarta (Karangasem), Bustan Basir Maras (Yogya), Badrudin Emce (Cilacap), Afrizal Malna (Yogya), Sindu Putra (Mataram), Arie MP Tamba (Jakarta), Aslan Abidin (Makassar), Hasta Indriyana (Yogya), Jamal T Suryanata (Pleihari), Wowok Hesti Prabowo (Tangerang), Thompson Hs (Pematang Siantar), Mardi Luhung (Gresik) dan Toto ST Radik (Banten).

Hari kedua, dengan jumlah penonton yang tetap membludak, diawali penampilan Tan Lioe Ie (Denpasar) yang memusikalisasikan dan membacakan puisi-puisinya dengan sangat atraktif. Setelah itu tampil TS Pinang (Yogya), Iyut Fitra (Payakumbuh), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Ahda Imran (Bandung), Riki Dhamparan Putra (Denpasar), Faisal Kamandobat (Yogya), Marhalim Zaini (Pekanbaru), Agus Hernawan (Padang), Iman Budhi Santoso (Yogya), Gus tf (Payakumbuh), Hasan Aspahani (Batam), Joko Pinurbo (Yogya) dan Sihar Ramses Simatupang (Jakarta).

Untung Basuki, sesepuh Sanggar Bambu dan Bengkel Teater, tampak dengan tulus menyalami panitia Divisi Sastra FKY XIX, Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua, "Selamat, acara Anda sukses!" katanya, barangkali sambil membayangkan bahwa sudah lama di Yogya tidak ada lagi forum puisi setakzim itu.

Mata acara yang tidak kalah menariknya adalah spoken word (pembacaan puisi lisan), di bekas Hotel Tugu, depan Stasiun Tugu, pada 25 Agustus, mulai pukul 19.00 WIB. Acara dibuka I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dari Tabanan, Bali, yang membawakan sajak 'leak'-nya, dan memukau penonton di ruang terbuka itu. Dengan suara yang melengking tinggi, Samar Gantang tampil prima, membangun variasi kata-kata berbahasa Indonesia dengan tembang dan mantra Bali.

Kemudian, D Zawawi Imron, yang kali ini diminta tampil khusus mendeklamasikan sajak-sajaknya, menggetarkan panggung dengan sajak Sungai Kecil, Ibu dan mencapai puncaknya dalam Sajak Alif yang dibacakan seperti berzikir.

Irman Syah dengan spontanitas dan improvisasinya yang tinggi, merespon panggung dengan menghentakkan kaki membentuk irama yang kemudian diikuti suara bansi (sejenis seruling) yang dimainkannya dengan tingkat keahlian tinggi.

Berturut-turut setelah itu, tampil antara lain kelompok asrama Air Tawar Aceh, Erythina Baskorowati yang membacakan teks Waktu, Batu, Abbas CH (dongeng), Pardiman (accapela), Jamaluddin Lattief (monolog), dan Jahanam (rapp).

Divisi Sastra FKY kali ini juga mengadakan workshop penulisan esei, dan diskusi sastra. Workshop berlangsung di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), 23 Agustus, mulai pukul 09.30 WIB dengan instruktur Nirwan Ahmad Arsuka dan Katrin Bandel. Selain mengundang 20 penulis muda (peserta inti), panitia workshop juga membuka kesempatan bagi sekitar 15 peserta partisipatif.

Sejumlah pengamat dan peserta peninjau yang diundang khusus dari berbagai kota/daerah di tanah air juga tampak hadir, seperti Mustofa Ibrahim (Sumbar), Jumhari HS (Kudus), Viddy AD Daery (Lamongan), Damhuri Muhammad (Jakarta), Boni Triyana (Jurnas), Fahmi Faqih (Surabaya) dan Dimas Arika Miharja (Jambi). "Acaranya bagus dan intens membuat saya optimis memandang kehidupan kesenian Indonesia mendatang," kata Mustofa Ibrahim.

Masih di Ruang Seminar TBY, 24 Agustus, mulai pukul 10.00 WIB, diadakan diskusi sastra dengan tema Spirit Penciptaan dan Perlawanan: Mengguggat Politik-Estetik Sastra Dekaden, Membangun Spirit Penyair Independen. Diskusi ini menghadirkan pembicara Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Aslan Abidin, Gus tf, dan Wowok Hesti Prabowo, dengan moderator Saut Situmorang, yang juga ketua Devisi Sastra FKY 2007.

Afrizal Malna dan Acep Zamzam Noor pada sesi pertama berbicara tentang proses kreatif mereka di tengah situasi pergaulan sastra yang gonjang-ganjing. Mereka mencoba bertahan dengan berbagai strategi yang dibangun sendiri. Afrizal misalnya, setelah sempat lama menetap di Solo, kini memilih tinggal di Yogya dan hidup sepenuhnya dari menulis. Tidak mudah memang, sebab itu berarti memilih menyepi dari hiruk-pikuk 'politik sastra' yang kurang menguntungkan.

Hal yang sama dilakukan Acep Zamzam Noor. Dalam menghadapi pergaulan sastra mutakhir ia cenderung menciptakan ruang sendiri yang sebenarnya menawarkan kritik dan ironi. Ia membangun komunitas anak muda di kampung halamannya, Tasikmalaya, sembari mencuatkan soliloqui "sastra tidaklah menegangkan". Lewat canda, plesetan dan ungkapan main-main, ia menawarkan sastra sebagai urusan kemanusiaan yang bisa mencairkan katub ketegangan. Jadi, tidak sepantasnya dibuat angker dan ekslusif.

Tidak mengherankan, di tengah polemik sastra yang meruncing seperti saat ini, Acep justru bicara tentang hobinya berjalan-jalan dari kota ke kota, filosofi batu akik atau tentang tamu-tamunya yang beragam watak dan latar. "Sastra adalah urusan kemanusiaan yang nilainya tidak bisa dimonopoli untuk kepentingan sesaat dan segelintir orang," katanya.

Diskusi yang lebih panas terjadi pada sesi kedua, dengan pembicara Wowok Hesti Prabowo, Aslan Abidin dan Gus tf. Aslan menganggap bahwa sastra Indonesia adalah sastra (redaktur) koran yang objektivitasnya perlu terus dikritisi. Itu artinya, sastra tidak boleh tergantung pada hegemoni media, sebab begitu sebuah media memaksakan estetika atau ideologinya, pengarang yang akan jadi korban.

Mengacu kepada sepotong tema spirit penciptaan, Gus tf mempertanyakan, masih perlukah kita mencipta bila semua telah ada dan kebenaran sudah dirumuskan? Menurutnya, masih, sebab kelenyapan bisa membuat puisi bertahan, karena hanya dengan lenyap ia jadi tak temporal, lahir dan lahir terus dalam diri pembaca yang berposisi sebagai subjek.

Sedangkan Wowok Hesti Prabowo tetap konsisten mengkritisi keberadaan Komunitas Utan Kayu dan Goenawan Mohamad yang menurutnya telah menjual kesusasteraan Indonesia di luar negeri. Menurut Wowok, Goenawan dan kawan-kawannya mempromosikan di luar negeri bahwa tidak ada lagi sastrawan di Indonesia, kecuali orang-orang TUK.

Pendapat dikemukakan Wowok itu mendapat sambutan beragam dari peserta diskusi. Ada yang mendukung dan setuju, ada yang malu-malu, ada yang malah balik menyerang Wowok, bahkan ada yang minta moderator diganti sebab dianggap berpihak pada Wowok. Menurut Saut, pernyataan Wowok itu merepresentasikan, sudah sejauh itulah pesona TUK merasuk ke dalam diri sebagian pengarang kita! (ahmadun yh, dari berbagai sumber)

Sumber: Republika, Minggu, 9 September 2007

spacer

DULU, KINI DAN NANTI

 Festival Senen 2025


Dahulu ada anggapan jika pergi ke Senen, harus waspada dengan situasi di sekitar area tersebut. Apa yang terjadi di kawasan itu, bagi orang baru yang akan bertandang ke sana, akan memperoleh masukan minor yang berkaitan erat dengan dunia kriminalitas.

Namun itu dulu. Sekarang, pendapat itu mulai terpatahkan dengan dunia teknologi modern yang merambah ke segala lini.

Salah satunya, Senen telah menjadi bagian dari pusat kesenian para seniman Betawi serta seniman muda lainnya untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka di berbagai bidang kesenian dan budaya yang ada di Indonesia.

Nama Senen yang terletak di daerah Jakarta Pusat, diambil dari nama Cornelis Senen. Ia seorang pendidik di Batavia di zaman Kolonial, Belanda.

Cornelis Senen berasal dari keluarga kaya keturunan Portugis, ia lahir dan besar di Pulau Lontar, Maluku. Pada tahun 1621 ia diasingkan ke Batavia, di sana ia membuka sebuah sekolah yang merupakan cikal bakal pendidikan formal di Indonesia.

Sekolah yang ia dirikan menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia dan namanya diabadikan menjadi daerah Senen Jakarta Pusat.

Cornelis Senen juga seorang tuan tanah yang memiliki kebun luas di daerah Ciliwung. Daerah Jatinegara juga pernah menjadi miliknya, dulu Bernama Meester Cornelis.

Ketika daerah Senen berada di tangan penguasa pegawai VOC Bernama Justinus Vinck pada tahun 1735, Senen berubah menjadi pasar dan berada di lingkungan Niew Batavia, Weltevreden, sekarang Jakarta Pusat.

Pasar Senen masih berupa pasar kecil yang bangunannya terbuat dari bambu dan beratap rumbia, Pasar Senen sempat diberi nama Vincpasser.

Seiring berjalannya waktu, Pasar itu kembali ke nama semula yaitu Pasar Senen, dan di sana bukan hanya menjadi tempat para pedagang melakukan transaksi jual dan beli barang-barang kebutuhan sehari-hari, namun juga menjadi wadah bagi para seniman di sekitarnya untuk mengembangkan eksistensi mereka.

Chairil Anwar

Pasar Senen kemudian juga menjadi rumah bagi para seniman Jakarta, dimulai pada 1942-1945 ketika masa penjajahan Jepang.

Saat itu, Kawasan Senen telah menjadi jantung dari kota Batavia yang seolah tak pernah tidur. Frasa yang ditulis sastrawan Ayip Rosidi dengan julukkan ‘Seniman Senen’ memang ditujukan pada para seniman yang suka berkumpul di Senen.

Seniman Senen bukan organisasi, namun sebutan itu muncul begitu saja, khususnya bagi para seniman yang kerap berkumpul di Jalan Kramat Bunder.

Salah satu tokoh seniman Senen yang sering mangkal di sana adalah Chairil Anwar. Ia seorang penyair yang sering melakukan kunjungan ke Pasar Senen

Tak hanya bertandang ke sana, Chairil Anwar juga kerap mendatangi toko buku loak di Senen yang kemudian menjadi tempat rendezvous para intelektual muda serta pejuang bawah tanah seperti A.K. Gani dan Chairul Saleh.

Selain Chairil, para seniman lainnya yang sering bertandang ke Pasar Senen adalah Sukarno M Noor, Ismed M Noor, Wim Umboh, Misbach Yusa Biran dan Wahid Chan yang sering dijuluki sebagai ‘Camat Senen’.

Lokasi kongkow para seniman ini bisa di pinggir jalan, di rumah makan Padang dan tempat lainnya di sekitar Senen. Mereka kerap berdiskusi dan membicarakan tentang buku-buku yang telah mereka baca.

Tak jarang terkenalnya Kawasan Senen sebagai tempat berkumpul para seniman, membuat orang-orang di masa itu yang kerap bertandang ke sana, seolah-olah merasa sebagai seniman Senen.

Dan opini tentang seniman Senen kemudian berkembang menjadi narasi bahwa seniman yang kerap kumpul di Pasar Senen adalah seniman gelandangan yang tak punya tempat tinggal.

Nada miring ini sebenarnya tidaklah cocok, sebab para seniman yang sungguh-sungguh berkumpul di Senen itu, adalah benar-benar seniman sejati yang berjuang tanpa lelah untuk melestarikan budaya, sastra dan kesenian lainnya yang ada di bumi Indonesia.

Senen 2025 di Perjalanan Waktu

Melihat perjalan tentang terbentuknya Pasar Senen, para seniman masa kini yang merupakan gabungan dari penyair, penulis atau sastrawan, mengadakan sebuah kegiatan dengan nama Festival Senen 2025, Dulu, Kini dan Nanti.

Acara yang dihadiri Kepala Sudin Kebudayaan Jakarta Pusat, Kepala Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Camat Senen beserta jajarannya, para guru dan para seniman tari, para musikalisasi puisi, musik juga penyair, mengadakan kegiatan yang erat hubungannya dengan Senen.

Festival Senen 2025 ini dirancang untuk kembali menggairahkan perjalanan Senen sebagai tempat para seniman tempo doeloe berkiprah dan menyalurkan rasa cinta mereka pada dunia literasi khususnya sastra Indonesia.

Denyut perjalanan sastra di Indonesia kembali digugah agar generasi muda Indonesia semakin mencintai dunia yang penuh dengan ragam diksi, kalimat, metafora, serta imajinasi di dalam mengembangkan dunia kata-kata.

Kegiatan ini untuk selalu memunculkan pengakuan atas sejarah literasi yang terus berdenyut di tiap lorong pada kawasan Senen yang sejak dulu terkenal dengan dunianya para penggiat dan pelaku seni serta sastra, bukan sebagai kawasan kumuh yang ditengarai serta diduga sebagai tempat bersarangnya para pelaku kriminal.

Di Senen inilah para seniman terkenal Indonesia di masanya telah menorehkan jejak bahwa tempat ini pernah menjadi lokasi terbentuknya banyak karya yang sangat bergengsi, yaitu karya sastra, teater dan film Indonesia. Di Senen ini juga mereka pernah memupuk mimpi, bersilang pendapat, dan menyalakan obor sastra Indonesia modern.

Era 1960, Cahaya Senen Redup

Memasuki era 1960-an, cahaya Senen perlahan meredup. Dalam catatan Misbach Yusa Biran, para seniman perlahan menepi, tak ingin terseret pusaran debat politik yang kala itu semakin menguat dipanaskan oleh agitasi PKI.

Hingga akhirnya, ketika pusat kesenian bergeser ke Taman Ismail Marzuki di Cikini, yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968, Senen seperti kehilangan panggungnya.

Geliat seni yang dulu membara pun terperangkap dalam ruang-ruang sempit, tertutup sorot gemerlap ekonomi kota, lengkap dengan dunia malamnya yang tak pernah tidur.

Para seniman dari luar kawasan Jakarta tak lagi melihat Senen sebagai poros kebudayaan. Yang tersisa hanya satu benang tipis yaitu pasar buku murah, tempat buku bekas dan bajakan, hingga stensilan, mereka hidup berdampingan, menjadi oase kecil bagi para pencari ilmu.

Pasca reformasi, upaya menghidupkan denyut Senen perlahan muncul ke permukaan, tidak hanya di lorong-lorong sunyi seperti sebelumnya. Lampion Sastra pada tahun 2008 menjadi nyala pertama, menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Deddy Mizwar, Harmoko, dan tentu saja Misbach Yusa Biran.

Di tahun yang sama, Komunitas Planet Senen (KoP’S) yang dinakhodai Irman Syah menggelar pembacaan dan musikalisasi puisi Chairil Anwar di Gelanggang Planet Senen.

Mereka tak hanya mengenang sang Binatang Jalang, tetapi juga berziarah ke makamnya di Karet.

Penyair dan seniman seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Ipoer Wangsa, Imam Ma’rif, Giyanto Subagio, Anya Rompas, Slamet Raharjo Rais, Sihar Ramses Simatupang, Widodo Arumdono, Putri Miranda, almarhum Rara Gendis, dan banyak lainnya kembali menghidupkan bara Senen, meski hanya sekejap.

Irman Syah pernah berujar bahwa Senen adalah guru kehidupan bagi para seniman. Senen tak hanya mengajarkan cara meracik kata atau merancang pertunjukan, tetapi juga menguji ketangguhan hidup, kerasnya pasar, gaduhnya politik, naik-turunnya inflasi, semua menjadi pengalaman empirik yang mematangkan karya dan membentuk karakter.

Dari Senen, mereka belajar bertahan. Dari Senen pula lahir karya-karya besar. Sampai hari ini masih ada beberapa kegiatan sastra di kawasan Senen, namun sifatnya sporadis, tidak terjadwal, apalagi menjadi agenda tahunan.

Setelah para seniman dan sastrawan yang tergabung dalam Sajak Pusat, komunitas sastra Jakarta Pusat ingin kembali membuka pintu itu.

Para seniman dan satrawan, ingin Festival Senen menjadi agenda rutin tahunan yang terjadwal dan menjadi kalender kesenian di Jakarta.

Kali ini di kegiatan Festival Senen 2025, panitia baru bisa mengajak para seniman dari berbagai daerah menulis puisi tentang Senen yang kemudian dibukukan dengan judul Senen, Dulu, Kini dan Nanti.

Beberapa penyair yang terlibat membacakan karya mereka di atas panggung Gelanggang Olahraga Senen yang sederhana.

Kegiatan ini juga melibatkan para pelajar tingkat SMA untuk mengikuti lomba cipta puisi. Seluruh karya yang masuk, dibukukan dan diberi judul Melihat Jakarta dari Jendela Kelas.

Panitia juga memberi ruang kepada para siswa dari 4 SMA di Jakarta untuk unjuk kebolehan dalam bidang musikalisasi puisi.

Festival Senen 2025 juga menghadirkan bazar buku murah yang difasilitasi oleh Sudin PPKUKM Jakarta Pusat.

Bazar ini dikuti oleh 10 komunitas seniman yang menjual buku-buku koleksinya dengan harga sangat murah.

Bazar diadakan di Lapangan Tekad Merdeka, berdampingan dengan bazar kuliner dari mitra binaan Kecamatan Senen.

Pihak panitia ingin melakukan napak tilas ke beberapa titik bersejarah di kawasan Senen, namun kegiatan tersebut terpaksa dibatalkan karena keterbatasan anggaran.

Seperti kita ketahui, Senen memiliki banyak tempat bersejarah di bidang sastra yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Kegiatan Festival Senen ini diharapkan menjadi tonggak kebangkitan tentang tetes dari arus panjang dunia sastra dan seni Indonesia.

Diharapkan kegiatan yang diselenggarakan pada 29 November 2025 ini memperoleh dukungan dari semua pihak dan bukan hanya sekedar mimpi tanpa jadi nyata.

Acara didukung dengan pembacaan puisi oleh Kurnia Effendi, Ni Made Sri Andani, Riri Satria, Imam Ma'arif, Julia Basri, dan Octavianus Masheka. Musikalilasi puisi oleh SMAN77 Jakarta, SMAN 67 Jakarta, SMAN 30 Jakarta dan SMA Kartini Jakarta.

Akhirnya terima kasih pada para pejabat yang terlibat di kegiatan ini. Semoga ke depannya, Festival Senen dapat menjadi agenda tahunan dan juga menjadi ikon seni dan budaya Jakarta Pusat, dan Jakarta secara lebih luas.

Semoga kegiatan ini mampu menarik kembali para pengunjung dari berbagai daerah, seperti masa ketika gaung Senen meruar ke segala arah tanah tercinta Indonesia dan menjadi degup jantung untuk kehidupan seni, sastra, serta kebebasan dalam berkarya. (***)

(Fanny J Poyk dan Yon Bayu Wahyono)

(Sumber:https://ruzkaindonesia.id/festival-senen-2025-dulu-kini-dan-nanti/)

spacer

Payakumbuh Poetry Festival 2025 Akan Dibuka Malam Ini



Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025, akan dibuka malam nanti, Kamis (27/11/2025) di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Sejumlah pertunjukan dan rangkaian diskusi bakal berlangsung hingga Sabtu 29 November 2025.

Pada malam pembukaan yang digelar di Agam Jua Art & Culture Cafe, musisi Afdhal Zikri menampilkan pertunjukan kolaborasi dengan Namal Siddiqui penyair dari Pakistan. Maestro dendang, Erniwati, menyuguhkan pertunjukan Bakalintin serta Irman Syah dengan Rohmantik Performance-nya.

Juga akan ada pertunjukan Puisi Visual (Visual Poetry) dan Puisi Bunyi (Sound Poetry) di malam pembukaan oleh para seniman partisipan Workshop Visual Poetry dan Workshop Sound Poetry.

“Pertunjukan Puisi Visual (Visual Poetry) dan Puisi Bunyi (Sound Poetry) PPF 2025 sedikit istimewa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini karya-karya yang ditampilkan adalah karya hasil workshop yang dipilih oleh para mentor,” ujar S Metron Masdison, Kurator PPF 2025. Karena itu ia melihat karya para seniman yang ditampilkan di PPF 2025 menawarkan sesuatu yang segar.

Roby Satria, Direktur PPF 2025, menyampaikan hal serupa. Menurutnya karya-karya Puisi Visual dan Puisi Bunyi yang tampil di PPF 2025 akan berbeda dengan karya-karya di PPF 2022 dan 2023.

“Pada PPF 2022 dan 2023 lalu, kita melakukan eksplorasi awal atas alih wahana puisi ke bunyi dan visual melalui sayembara. Para seniman ‘dipancing’ membuat karya bunyi dan visual berbasis teks puisi. Karya terpilih lalu ditampilkan di gelaran puncak.”

“Kita juga mengajak musisi seperti Ananda Sukarlan dan Sipaningkah untuk menjelajahi kemungkinan beralihnya puisi ke bunyi pada 2022 dan 2023. Tapi tahun ini kita mencoba pendekatan baru, kita eksplorasinya lewat workshop di masa pra-festival,” jelas Roby lebih jauh.

Alih wahana puisi ke medium bunyi dan visual memang merupakan salah satu fokus utama PPF sejak PPF 2022 lalu. Di samping membuka sayembara puisi visual dan puisi bunyi, serangkain diskusi tentang alih wahana puisi ke visual dan bunyi juga digelar pada PPF 2022 dan 2023.

Tahun ini, sejumlah seniman diajak mengikuti Workshop Puisi Bunyi dan Workshop Puisi Visual selama 3 hari bersama mentor Donny Eros dan Aldo Ahmad a.k.a Sipaningkah dalam kegiatan pra-festival.

Selain karya-karya hasil workshop, beberapa karya Puisi Visual pemenang Sayembara Puisi Visual PPF 2022 dan 2023 juga akan ditampilkan di sepanjang gelaran puncak PPF 2025.

Sejumlah penyair seperti penyair Ikhwanul Arif dan Adri Sandra juga turut serta dalam gelaran puncak PPF 2025. Begitu juga pembaca puisi remaja seperti Ada Vidia dan Suluh Namaku. Juga akan ada penampilan pertunjukan puisi oleh D Montis.

Serangkaian diskusi digelar pada hari kedua dan ketiga festival, dengan pembicara seperti sastrawan Gus TF, Inggit Putria Marga, Namal Siddiqui, dan Raudal Tanjung Banua, serta akademisi seperti Yona Prima, Donny Eros dan Sudarmoko.

Mereka akan membahas berbagai persoalan terkait puisi dan hubungannya dengan berbagai aspek seperti penguatan festival hingga anak dan pendidikan non-formal. Dua buku puisi pilihan PPF 2025, puisi-puisi pemenang Sayembara Manuskrip Puisi PPF 2025, serta tema PPF 2025, “Antardunia dalam Puisi”, juga turut dibahas.

PPF Masuk Sekolah, program yang dirancang untuk mendekatkan pelajar dengan dunia sastra, puisi khususnya, diadakan di hari kedua festival. Dalam program ini para pemenang Sayembara Manuskrip Puisi PPF 2025 berkunjung ke lima sekolah menengah yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Ini adalah program yang telah berjalan sejak PPF 2022 lalu.

Galang Donasi untuk Bencana

Saat berita ini ditayangkang, kondisi di Sumatera Barat makin tidak menentu, termasuk di Payakumbuh. Hujan deras diikuti angin kencang, serta banjir dan longsor di beberapa titik akses menuju Payakumbuh terjadi imbas dari siklon tropis Senyar.

Menanggapi perkembangan tersebut, pihak PPF mengatakan bakal mengadakan penggalangan dana untuk korban banjir dan longsor di Sumatera Barat selama tiga hari penyelenggaraan PPF 2025.

“Kita berbela sungkawa dan berdoa untuk semua korban bencana banjir dan longsor,” kata Roby Satria, Direktur PPF 2025. Ia juga menambahkan dana hasil penggalangan akan disalurkan untuk membantu korban terdampak terutama di Payakumbuh dan sekitarnya.

“Kita juga berdoa festival ini tetap berjalan lancar karena telah dipersiapkan jauh-jauh hari dan persiapannya pun sudah 80%,” tambahnya.
PPF merupakan festival sastra yang khusus mengangkat khazanah puisi Indonesia sebagai titik berangkat perayaan. Di tahun ke-6 penyelenggaraannya, PPF mengusung tema “Antardunia dalam Puisi.”

Lewat tema “Antarunia dalam Puisi”, PPF mengajak untuk merayakan puisi sebagai ruang pertemuan antara berbagai bentuk seni dan pengalaman budaya. Puisi tidak hanya hadir sebagai teks, tetapi juga bisa menjelma menjadi suara, gambar, gerak, atau pertunjukan. Melalui lintasan antar medium ini, puisi membuka kemungkinan untuk merasakan dan mengekspresikan dunia dengan cara yang baru.

Tema tersebut juga menyoroti pertemuan antara beragam pengalaman budaya, di mana bahasa, latar, dan tradisi yang berbeda saling bertukar makna. “Antardunia dalam Puisi”, juga merupakan jalan setapak untuk memahami bahwa setiap puisi membawa dunia lain yang bisa dimasuki bersama.

Dalam festival ini, puisi tidak hanya dilihat sebagai produk sastra tetapi juga bahan yang bisa dikembangkan melalui alih wahana ke medium-medium seni lainnya, seperti bunyi dan visual.

(Suber: https://langgam.id/payakumbuh-poetry-festival-2025-akan-dibuka-malam-ini/)


spacer