DULU, KINI DAN NANTI
Festival Senen 2025
Dahulu ada anggapan jika pergi ke
Senen, harus waspada dengan situasi di sekitar area tersebut. Apa yang terjadi
di kawasan itu, bagi orang baru yang akan bertandang ke sana, akan memperoleh
masukan minor yang berkaitan erat dengan dunia kriminalitas.
Namun itu dulu. Sekarang, pendapat
itu mulai terpatahkan dengan dunia teknologi modern yang merambah ke segala
lini.
Salah satunya, Senen telah menjadi
bagian dari pusat kesenian para seniman Betawi serta seniman muda lainnya untuk
mengembangkan bakat dan potensi mereka di berbagai bidang kesenian dan budaya
yang ada di Indonesia.
Nama Senen yang terletak di daerah
Jakarta Pusat, diambil dari nama Cornelis Senen. Ia seorang pendidik di Batavia
di zaman Kolonial, Belanda.
Cornelis Senen berasal dari keluarga
kaya keturunan Portugis, ia lahir dan besar di Pulau Lontar, Maluku. Pada tahun
1621 ia diasingkan ke Batavia, di sana ia membuka sebuah sekolah yang merupakan
cikal bakal pendidikan formal di Indonesia.
Sekolah yang ia dirikan menjadi
tonggak penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia dan namanya diabadikan
menjadi daerah Senen Jakarta Pusat.
Cornelis Senen juga seorang tuan
tanah yang memiliki kebun luas di daerah Ciliwung. Daerah Jatinegara juga
pernah menjadi miliknya, dulu Bernama Meester Cornelis.
Ketika daerah Senen berada di tangan
penguasa pegawai VOC Bernama Justinus Vinck pada tahun 1735, Senen berubah
menjadi pasar dan berada di lingkungan Niew Batavia, Weltevreden, sekarang
Jakarta Pusat.
Pasar Senen masih berupa pasar kecil
yang bangunannya terbuat dari bambu dan beratap rumbia, Pasar Senen sempat
diberi nama Vincpasser.
Seiring berjalannya waktu, Pasar itu
kembali ke nama semula yaitu Pasar Senen, dan di sana bukan hanya menjadi
tempat para pedagang melakukan transaksi jual dan beli barang-barang kebutuhan
sehari-hari, namun juga menjadi wadah bagi para seniman di sekitarnya untuk
mengembangkan eksistensi mereka.
Chairil
Anwar
Pasar Senen kemudian juga menjadi
rumah bagi para seniman Jakarta, dimulai pada 1942-1945 ketika masa penjajahan
Jepang.
Saat itu, Kawasan Senen telah menjadi
jantung dari kota Batavia yang seolah tak pernah tidur. Frasa yang ditulis
sastrawan Ayip Rosidi dengan julukkan ‘Seniman Senen’ memang ditujukan pada
para seniman yang suka berkumpul di Senen.
Seniman Senen bukan organisasi, namun
sebutan itu muncul begitu saja, khususnya bagi para seniman yang kerap
berkumpul di Jalan Kramat Bunder.
Salah satu tokoh seniman Senen yang
sering mangkal di sana adalah Chairil Anwar. Ia seorang penyair yang sering
melakukan kunjungan ke Pasar Senen
Tak hanya bertandang ke sana, Chairil
Anwar juga kerap mendatangi toko buku loak di Senen yang kemudian menjadi
tempat rendezvous para intelektual muda serta pejuang bawah tanah seperti A.K.
Gani dan Chairul Saleh.
Selain Chairil, para seniman lainnya
yang sering bertandang ke Pasar Senen adalah Sukarno M Noor, Ismed M Noor, Wim
Umboh, Misbach Yusa Biran dan Wahid Chan yang sering dijuluki sebagai ‘Camat
Senen’.
Lokasi kongkow para seniman ini bisa
di pinggir jalan, di rumah makan Padang dan tempat lainnya di sekitar Senen.
Mereka kerap berdiskusi dan membicarakan tentang buku-buku yang telah mereka
baca.
Tak jarang terkenalnya Kawasan Senen
sebagai tempat berkumpul para seniman, membuat orang-orang di masa itu yang
kerap bertandang ke sana, seolah-olah merasa sebagai seniman Senen.
Dan opini tentang seniman Senen
kemudian berkembang menjadi narasi bahwa seniman yang kerap kumpul di Pasar
Senen adalah seniman gelandangan yang tak punya tempat tinggal.
Nada miring ini sebenarnya tidaklah
cocok, sebab para seniman yang sungguh-sungguh berkumpul di Senen itu, adalah
benar-benar seniman sejati yang berjuang tanpa lelah untuk melestarikan budaya,
sastra dan kesenian lainnya yang ada di bumi Indonesia.
Senen
2025 di Perjalanan Waktu
Melihat perjalan tentang terbentuknya
Pasar Senen, para seniman masa kini yang merupakan gabungan dari penyair,
penulis atau sastrawan, mengadakan sebuah kegiatan dengan nama Festival Senen
2025, Dulu, Kini dan Nanti.
Acara yang dihadiri Kepala Sudin
Kebudayaan Jakarta Pusat, Kepala Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Camat Senen
beserta jajarannya, para guru dan para seniman tari, para musikalisasi puisi,
musik juga penyair, mengadakan kegiatan yang erat hubungannya dengan Senen.
Festival Senen 2025 ini dirancang
untuk kembali menggairahkan perjalanan Senen sebagai tempat para seniman tempo
doeloe berkiprah dan menyalurkan rasa cinta mereka pada dunia literasi
khususnya sastra Indonesia.
Denyut perjalanan sastra di Indonesia
kembali digugah agar generasi muda Indonesia semakin mencintai dunia yang penuh
dengan ragam diksi, kalimat, metafora, serta imajinasi di dalam mengembangkan
dunia kata-kata.
Kegiatan ini untuk selalu memunculkan
pengakuan atas sejarah literasi yang terus berdenyut di tiap lorong pada
kawasan Senen yang sejak dulu terkenal dengan dunianya para penggiat dan pelaku
seni serta sastra, bukan sebagai kawasan kumuh yang ditengarai serta diduga
sebagai tempat bersarangnya para pelaku kriminal.
Di Senen inilah para seniman terkenal
Indonesia di masanya telah menorehkan jejak bahwa tempat ini pernah menjadi
lokasi terbentuknya banyak karya yang sangat bergengsi, yaitu karya sastra,
teater dan film Indonesia. Di Senen ini juga mereka pernah memupuk mimpi,
bersilang pendapat, dan menyalakan obor sastra Indonesia modern.
Era
1960, Cahaya Senen Redup
Memasuki era 1960-an, cahaya Senen
perlahan meredup. Dalam catatan Misbach Yusa Biran, para seniman perlahan
menepi, tak ingin terseret pusaran debat politik yang kala itu semakin menguat
dipanaskan oleh agitasi PKI.
Hingga akhirnya, ketika pusat
kesenian bergeser ke Taman Ismail Marzuki di Cikini, yang diresmikan Gubernur
Ali Sadikin pada 10 November 1968, Senen seperti kehilangan panggungnya.
Geliat seni yang dulu membara pun
terperangkap dalam ruang-ruang sempit, tertutup sorot gemerlap ekonomi kota,
lengkap dengan dunia malamnya yang tak pernah tidur.
Para seniman dari luar kawasan
Jakarta tak lagi melihat Senen sebagai poros kebudayaan. Yang tersisa hanya
satu benang tipis yaitu pasar buku murah, tempat buku bekas dan bajakan, hingga
stensilan, mereka hidup berdampingan, menjadi oase kecil bagi para pencari
ilmu.
Pasca reformasi, upaya menghidupkan
denyut Senen perlahan muncul ke permukaan, tidak hanya di lorong-lorong sunyi
seperti sebelumnya. Lampion Sastra pada tahun 2008 menjadi nyala pertama,
menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Deddy Mizwar, Harmoko, dan tentu saja
Misbach Yusa Biran.
Di tahun yang sama, Komunitas Planet
Senen (KoP’S) yang dinakhodai Irman Syah menggelar pembacaan dan musikalisasi
puisi Chairil Anwar di Gelanggang Planet Senen.
Mereka tak hanya mengenang sang
Binatang Jalang, tetapi juga berziarah ke makamnya di Karet.
Penyair dan seniman seperti Ahmadun
Yosi Herfanda, Ipoer Wangsa, Imam Ma’rif, Giyanto Subagio, Anya Rompas, Slamet
Raharjo Rais, Sihar Ramses Simatupang, Widodo Arumdono, Putri Miranda, almarhum
Rara Gendis, dan banyak lainnya kembali menghidupkan bara Senen, meski hanya
sekejap.
Irman Syah pernah berujar bahwa Senen
adalah guru kehidupan bagi para seniman. Senen tak hanya mengajarkan cara
meracik kata atau merancang pertunjukan, tetapi juga menguji ketangguhan hidup,
kerasnya pasar, gaduhnya politik, naik-turunnya inflasi, semua menjadi
pengalaman empirik yang mematangkan karya dan membentuk karakter.
Dari Senen, mereka belajar bertahan.
Dari Senen pula lahir karya-karya besar. Sampai hari ini masih ada beberapa
kegiatan sastra di kawasan Senen, namun sifatnya sporadis, tidak terjadwal,
apalagi menjadi agenda tahunan.
Setelah para seniman dan sastrawan
yang tergabung dalam Sajak Pusat, komunitas sastra Jakarta Pusat ingin kembali
membuka pintu itu.
Para seniman dan satrawan, ingin
Festival Senen menjadi agenda rutin tahunan yang terjadwal dan menjadi kalender
kesenian di Jakarta.
Kali ini di kegiatan Festival Senen
2025, panitia baru bisa mengajak para seniman dari berbagai daerah menulis
puisi tentang Senen yang kemudian dibukukan dengan judul Senen, Dulu, Kini dan
Nanti.
Beberapa penyair yang terlibat
membacakan karya mereka di atas panggung Gelanggang Olahraga Senen yang
sederhana.
Kegiatan ini juga melibatkan para
pelajar tingkat SMA untuk mengikuti lomba cipta puisi. Seluruh karya yang
masuk, dibukukan dan diberi judul Melihat Jakarta dari Jendela Kelas.
Panitia juga memberi ruang kepada
para siswa dari 4 SMA di Jakarta untuk unjuk kebolehan dalam bidang
musikalisasi puisi.
Festival Senen 2025 juga menghadirkan
bazar buku murah yang difasilitasi oleh Sudin PPKUKM Jakarta Pusat.
Bazar ini dikuti oleh 10 komunitas
seniman yang menjual buku-buku koleksinya dengan harga sangat murah.
Bazar diadakan di Lapangan Tekad
Merdeka, berdampingan dengan bazar kuliner dari mitra binaan Kecamatan Senen.
Pihak panitia ingin melakukan napak
tilas ke beberapa titik bersejarah di kawasan Senen, namun kegiatan tersebut
terpaksa dibatalkan karena keterbatasan anggaran.
Seperti kita ketahui, Senen memiliki
banyak tempat bersejarah di bidang sastra yang dapat dikembangkan menjadi
destinasi wisata.
Kegiatan Festival Senen ini
diharapkan menjadi tonggak kebangkitan tentang tetes dari arus panjang dunia
sastra dan seni Indonesia.
Diharapkan kegiatan yang
diselenggarakan pada 29 November 2025 ini memperoleh dukungan dari semua pihak
dan bukan hanya sekedar mimpi tanpa jadi nyata.
Acara didukung dengan pembacaan puisi
oleh Kurnia Effendi, Ni Made Sri Andani, Riri Satria, Imam Ma'arif, Julia
Basri, dan Octavianus Masheka. Musikalilasi puisi oleh SMAN77 Jakarta, SMAN 67
Jakarta, SMAN 30 Jakarta dan SMA Kartini Jakarta.
Akhirnya terima kasih pada para
pejabat yang terlibat di kegiatan ini. Semoga ke depannya, Festival Senen dapat
menjadi agenda tahunan dan juga menjadi ikon seni dan budaya Jakarta Pusat, dan
Jakarta secara lebih luas.
Semoga kegiatan ini mampu menarik
kembali para pengunjung dari berbagai daerah, seperti masa ketika gaung Senen
meruar ke segala arah tanah tercinta Indonesia dan menjadi degup jantung untuk
kehidupan seni, sastra, serta kebebasan dalam berkarya. (***)
(Fanny J Poyk dan Yon Bayu Wahyono)
(Sumber:https://ruzkaindonesia.id/festival-senen-2025-dulu-kini-dan-nanti/)
Payakumbuh Poetry Festival 2025 Akan Dibuka Malam Ini
Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025, akan dibuka
malam nanti, Kamis (27/11/2025) di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Sejumlah
pertunjukan dan rangkaian diskusi bakal berlangsung hingga Sabtu 29 November
2025.
Pada
malam pembukaan yang digelar di Agam Jua Art & Culture Cafe, musisi Afdhal
Zikri menampilkan pertunjukan kolaborasi dengan Namal Siddiqui penyair dari
Pakistan. Maestro dendang, Erniwati, menyuguhkan pertunjukan Bakalintin serta
Irman Syah dengan Rohmantik Performance-nya.
Juga
akan ada pertunjukan Puisi Visual (Visual Poetry) dan Puisi Bunyi (Sound
Poetry) di malam pembukaan oleh para seniman partisipan Workshop Visual Poetry
dan Workshop Sound Poetry.
“Pertunjukan
Puisi Visual (Visual Poetry) dan Puisi Bunyi (Sound Poetry) PPF 2025 sedikit
istimewa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini karya-karya yang
ditampilkan adalah karya hasil workshop yang dipilih oleh para mentor,” ujar S
Metron Masdison, Kurator PPF 2025. Karena itu ia melihat karya para seniman
yang ditampilkan di PPF 2025 menawarkan sesuatu yang segar.
Roby
Satria, Direktur PPF 2025, menyampaikan hal serupa. Menurutnya karya-karya
Puisi Visual dan Puisi Bunyi yang tampil di PPF 2025 akan berbeda dengan
karya-karya di PPF 2022 dan 2023.
“Pada
PPF 2022 dan 2023 lalu, kita melakukan eksplorasi awal atas alih wahana puisi
ke bunyi dan visual melalui sayembara. Para seniman ‘dipancing’ membuat karya
bunyi dan visual berbasis teks puisi. Karya terpilih lalu ditampilkan di
gelaran puncak.”
“Kita
juga mengajak musisi seperti Ananda Sukarlan dan Sipaningkah untuk menjelajahi
kemungkinan beralihnya puisi ke bunyi pada 2022 dan 2023. Tapi tahun ini kita
mencoba pendekatan baru, kita eksplorasinya lewat workshop di masa
pra-festival,” jelas Roby lebih jauh.
Alih
wahana puisi ke medium bunyi dan visual memang merupakan salah satu fokus utama
PPF sejak PPF 2022 lalu. Di samping membuka sayembara puisi visual dan puisi
bunyi, serangkain diskusi tentang alih wahana puisi ke visual dan bunyi juga
digelar pada PPF 2022 dan 2023.
Tahun
ini, sejumlah seniman diajak mengikuti Workshop Puisi Bunyi dan Workshop Puisi
Visual selama 3 hari bersama mentor Donny Eros dan Aldo Ahmad a.k.a Sipaningkah
dalam kegiatan pra-festival.
Selain
karya-karya hasil workshop, beberapa karya Puisi Visual pemenang Sayembara
Puisi Visual PPF 2022 dan 2023 juga akan ditampilkan di sepanjang gelaran
puncak PPF 2025.
Sejumlah
penyair seperti penyair Ikhwanul Arif dan Adri Sandra juga turut serta dalam
gelaran puncak PPF 2025. Begitu juga pembaca puisi remaja seperti Ada Vidia dan
Suluh Namaku. Juga akan ada penampilan pertunjukan puisi oleh D Montis.
Serangkaian
diskusi digelar pada hari kedua dan ketiga festival, dengan pembicara seperti
sastrawan Gus TF, Inggit Putria Marga, Namal Siddiqui, dan Raudal Tanjung
Banua, serta akademisi seperti Yona Prima, Donny Eros dan Sudarmoko.
Mereka
akan membahas berbagai persoalan terkait puisi dan hubungannya dengan berbagai
aspek seperti penguatan festival hingga anak dan pendidikan non-formal. Dua
buku puisi pilihan PPF 2025, puisi-puisi pemenang Sayembara Manuskrip Puisi PPF
2025, serta tema PPF 2025, “Antardunia dalam Puisi”, juga turut dibahas.
PPF
Masuk Sekolah, program yang dirancang untuk mendekatkan pelajar dengan dunia
sastra, puisi khususnya, diadakan di hari kedua festival. Dalam program ini
para pemenang Sayembara Manuskrip Puisi PPF 2025 berkunjung ke lima sekolah
menengah yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Ini adalah
program yang telah berjalan sejak PPF 2022 lalu.
Galang
Donasi untuk Bencana
Saat
berita ini ditayangkang, kondisi di Sumatera Barat makin tidak menentu,
termasuk di Payakumbuh. Hujan deras diikuti angin kencang, serta banjir dan
longsor di beberapa titik akses menuju Payakumbuh terjadi imbas dari siklon
tropis Senyar.
Menanggapi
perkembangan tersebut, pihak PPF mengatakan bakal mengadakan penggalangan dana
untuk korban banjir dan longsor di Sumatera Barat selama tiga hari
penyelenggaraan PPF 2025.
“Kita
berbela sungkawa dan berdoa untuk semua korban bencana banjir dan longsor,”
kata Roby Satria, Direktur PPF 2025. Ia juga menambahkan dana hasil
penggalangan akan disalurkan untuk membantu korban terdampak terutama di
Payakumbuh dan sekitarnya.
Lewat
tema “Antarunia dalam Puisi”, PPF mengajak untuk merayakan puisi sebagai ruang
pertemuan antara berbagai bentuk seni dan pengalaman budaya. Puisi tidak hanya
hadir sebagai teks, tetapi juga bisa menjelma menjadi suara, gambar, gerak,
atau pertunjukan. Melalui lintasan antar medium ini, puisi membuka kemungkinan
untuk merasakan dan mengekspresikan dunia dengan cara yang baru.
Tema
tersebut juga menyoroti pertemuan antara beragam pengalaman budaya, di mana
bahasa, latar, dan tradisi yang berbeda saling bertukar makna. “Antardunia dalam
Puisi”, juga merupakan jalan setapak untuk memahami bahwa setiap puisi membawa
dunia lain yang bisa dimasuki bersama.
Dalam
festival ini, puisi tidak hanya dilihat sebagai produk sastra tetapi juga bahan
yang bisa dikembangkan melalui alih wahana ke medium-medium seni lainnya,
seperti bunyi dan visual.
(Suber: https://langgam.id/payakumbuh-poetry-festival-2025-akan-dibuka-malam-ini/)
.jpg)

