: Sekali Tiba di Ujung dan Sekalian Selamat Jalan *)
Oleh Irman Syah
I
Semua manusia di dunia,
pastilah mengalami berbagai hal hidup yang layak untuk dikisahkan tapi hanya
sebagian kecil saja diantaranya yang mampu menukilkannya secara baik lewat
tulisan yang bisa dinikmati semua orang. Dari Sebagian kecil itu pun tak pula
semua yang memiliki keistimewaan ungkapan serta membungakan kebermanfaatan
secara menarik dan indah.
Kemampuan untuk melayarkan kisah tentulah
sebuah upaya yang luar biasa, karena di dalamnya gelombang nasib akan selalu
mengalunkan ombak dengan gemulungnya yang tak berkira serta mendeburkan
hempasan dengan bahasanya yang sempurna. Kejujuran adalah tiang utama bagi kata-kata,
sehingga dengan begitu citarasa bahasa menjadi dekat dengan pembaca.
Disebabkan hidup telah mengajarkan
jalannya sendiri-sendiri bagi manusia maka kekayaan perjalanan masing-masing
orang akan berjalinan untuk saling bersentuhan ketika menikmati karya yang
dibacanya. Diksi dan ibarat, atau ikon, indeks, dan symbolnya akan siap menjadi
cermin tersendiri dalam ruang komunikasi personalnya. Semua akan bertegursapa.
Membaca Tangan-Tangan Kisah, Sehimpun
Epigram karya Ubai Dillah Al Anshori; kita seakan ditarik oleh jemari kelembutan
untuk menelusuri untaian dan liku perjalanan. Derap sunyi pada rindu yang
ditingkahi bayang-bayang masalalu membukakan jendelanya pula pada ayat-ayat kausalitas
dalam tanya dan jawab, atau sebab dan akibat yang bergemuruh di ruang dada.
Buku kedua Ubai ini diterbitkan oleh Soesoeran,
Pematang Siantar 2022. Di dalamnya terdapat 99 ayat yang bertalian untuk
membangun kisah. Ada semacam kesengajaan bagi penyairnya dengan hitungan angka
itu dalam mengantarkan rindu, sunyi, kasih, dan perjalanan, begitu pun cinta
dan sentuhan serta penungguan dan penundaan dalam jarak pertemuan.
Tiada lagi persoalan, selain rindu,
dendam, kasih, cinta, benci, dan harap serta laju impian. Semua bergumulan
dalam nafas kehidupan. Mencipta semangat, atau kepatah-hatian. Bagaimana semua
melaju atau tersendat karena saling berbenturan, atau percikan bumbu was-was,
debar, curiga dan cemburu rapi menggulainya dalam sistematika Bahasa yang tepat
ketika mengantarkan luka, sunyi, sepi, dan hampa dalam penungguan.
Semua itu terangkum dalam buku Tangan-Tangan
Kisah yang ditulis oleh Ubai Dillah Al Anshori. Dan ketika kita cermati dari awal
hingga akhir buku ini maka penamaan epigram dapat kita temukan sebagai sebuah
konklusi. Andai di sigi satu demi satu pada pemaknaan puisi, maka amanat dalam
bentuk nasehat terasa renggang dan luang. Meski begitu hal ini juga merupakan
usaha kreativitas dan eksprerimen Ubai untuk mendapatkan sebuah penemuan.
II
Tangan-Tangan Kisah
memungkinkan adanya beragam gambaran pemaknaan. Idiom dari judul yang merupakan
indeks dari buku ini bisa saja dimaknai dangan kata ‘menjangkau’, ‘memeluk’
‘menyambut’, ‘melepas’, ‘menarik’ atau ‘mendorong’ tentang sebuah kisah atau
peristiwa. Meskipun begitu masih pula ada kemungkinan lain bahwa ‘kisah’ ini
memiliki sekian tangan.
Diawali dari indeks pada judul di halaman
12, yakni pada /10/:
setelah peluit kereta dinyalakan
masa lalu terasa punya tangan
ia menyentuh dengan perlahan
Dari gambaran peristiwa sebelumnya; sunyi,
tanya, kita, sepi, bayang-bayang, rindu, pelabuhan, dan
sentuhan pada puisi-puisi awal itu,
puisi yang dikutip di atas telah menciptakan indeks yang menunjuk langsung pada
pemaknaan bahwa masalalulah yang mencipta jadi tangan yang dengan leluasa siap untuk
menjangkau kembali peristiwa-peristiwa yang telah berubah jadi kenangan.
Maka kisah-kisah jadi berhamburan melalui
puisi-puisi pendek dan ringan itu tersebab sentuhan perlahan jemari kenangan
demi kenangan. Kata-kata membahasakan tangan-tangan kisah untuk menceritakan perjalanan,
hari, waktu, pertemuan, pelukan atau kecupan,
dan selanjut singgah di berbagai perhentian; halte, stasiun, atau
taman-taman kota.
Begitu pula dengan indeks pada judul di
halaman 23, yakni pada /27/:
tiada hari libur
segala telah menjadi
hari penantian
Melalui puisi ini, maka sebaliknya, hari
akan berhenti jika tercipta pertemuan; bibir, kecupan, dan juga tubuh.
Tak bermakna lagi kerinduan. Percintaan mekar dan menyatu, menjuntaikan kata
pada perpisahan; lambaian tangan, lampu jalan, dan gerimis.
Pada akhirnya kenyataan ini berjawab pada puisi di halaman 34, judul /48/:
kekasih, apakah kepulangan telah
bertukar?
Selanjutnya:
/49/
duka perlahan masuk
namun, angin tetap
tabah membawanya
tanpa tahu kemana
akan tiba
/61/
aku telah menjadi tubuh kopi
sedang engkau terus menunda
untuk menyeruput
Apa yang dikisahkan tentulah sesuatu yang
istimewa. Mestilah menjadi ikatan pembaca untuk berangkat ke bait-bait
berikutnya. Dan Ubai menjadikannya sebagai untaian dan igau-igau dalam rongga
dada. Adalah keberhasilan jika pembaca bisa seakan-akan berada di dalamnya:
/93/
tergenapkanlah duka
ketika tuhan membuka
dua luka
luka padamu
luka padaku
III
Sekali Tiba di Ujung dan Sekalian
Selamat Jalan. Kutipan ini sepertinya dapat
membingkai karya Ubai Dillah Al Anshori dalam hal suasana batin dan nafas
puitik yang melingkupi keseluruhan karya yang tergabung dalam buku ini.
Perjalanan, sunyi, perhentian, jarak, rindu, hampa, dan impian begitu saja
membalutkan risau perpisahan.
Sepertinya, tangan-tangan kisah ini,
nyaris hampir-menghampiri dengan peristiwa dan suasana puitik dalam sajak
Chairil Anwar. Salah satunya, sebagaimana lirik yang dikutip di atas dari
puisinya yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. Bagaimana sunyinya makna atas sebuah
genggaman yang terlepas.
Buku ini kaya dengan sketsa-sketsa yang
menghadirkan peristiwa atau suasana puitik, meski kadang terasa berlepasan tapi
kembali utuh dan menyatu lagi ketika pembacaan dilakukan dengan cara berurutan.
Artinya, Ubai punya modal kuat untuk mencipta puisi dengan nafas yang Panjang.
Kecermatan berbahasanya pun cukup baik.
Puisi-puisi pendek jenis epigram dalam
buku ini juga diselingi dengan ilustrasi yang cukup menarik karya Winda Tari
Utami. Dengan begitu ada saling keterkaitan antara puisi dengan ilustrasi
isinya. Kesalahan ketik juga ditemukan satu-dua. Dikarenakan ini puisi, tentu
saja ini perlu kewaspadaan dan koreksian untuk cetakan selanjutnya.
Sebagai seorang penyair muda, sebagaimana
diungkapkan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, Ubai Dillah Al Anshori potensial.
Penyair kelahiran Pematang Siantar ini masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair
Indonesia (2017). Buku puisi pertamanya berjudul Setungkul Benang (2018). Aktif
di Tugu Sastra Siantar, Komunitas Diskusi Sastra FOKUS dan Akar Kata.
Satgas_RI,
3 Juni 2022
*Senja
di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar

No comments:
Post a Comment
SILAHKAN TINGGALkAN TANGGAPAN DI SINI