Dramatisasi Puisi ini berlangsung di
Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Menteng Jakarta Pusat
dan dimaksudkan untuk memperingati peristiwa Tsunami (Smong) yang melanda ujung
Sumatera:
MAHADUKA
ACEH
Berperahu hidup melabuhkan kematian,
sementara mati
adalah hidup yang kekal,
dari pulau ke pulau tak lain laut
kemudian
tanah lagi, pergantian tak ubahnya saling dekap
dan
permusuhan adalah perkenalan yang teramat akrab
Menyadari kesendirian menyikapi perkawinan
dan percintaan yang kekal adalah
perpisahan; perahu
berlayar, hidup memancar, menggetarkan
kematian
Dalam hidup, kematian dikandung entah
berapa lama
di dada musuh perkenalan terjalin amat
setia
Dan perkawinan, tak ubahnya memenjarakan
kesendirian
menyamakan bulu untuk terbang
beriringan, mengepakkan
Proses produksi 'Di Bawah Lindungan Ka'bah', sebuah film layar lebar yang diangkat dari novel Hamka ke dalam bentuk visual, sungguhlah sebuah pengalaman tersendiri bagi saya.
Film ini disutradarai Hani Saputra, seorang sutradara kenamaan di Indonesia dan dibintangi oleh Laudya Cinthia Bella, Herjunot Ali dan sederatan artis beken lainnya, serta diproduksi oleh MD Pictures.
Dan saya sendiri dipercaya sebagai acting coach, atau pelatih
akting artis dalam produksi itu.
Tulisan ini tidak akan menceritakan bagaimana
proses shootingnya, tapi akan mengisahkan sesuatu yang unik dan bahkan menarik
yang berada di luar proses itu.
Dikarenakan cerita yang diangkat berlatarkan
budaya dan tradisi Minangkabau maka lokasi shootingnya pun dominan diambil di
daerah Sumatera Barat.
'Bansi', Alat Musik Tiup Tradisional Minangkabau:
Kisahnya bermula dari sini: tersebab saya
berdarah Minangkabau, tepatnya di Magek (Bukittinggi), kawan-kawan crew pun
mulai banyak yang bertanya tentang beberapa alat musik tradisional daerah ini.
Salah satunya adalah musik 'bansi', yaitu alat musik tiup
tradisional Minangkabau yang terbuat dari bambu. Bambu yang dipilih untuk ini
pun adalah bambu jenis kecil yang disebut talang.
Cerita punya cerita, dan entah kenapa akhirnya
ketika istirahat makan siang sebelum aktivitas shooting dimulai, saya pun
ditabik untuk memperagakan cara meniup dan membunyikannya.
Sahabat..
Anda dapat menyaksikan video ini tentang bagaimana cara dan bunyi dari nada
yang dihasilkan. Inilah sampel video pertunjukan bansi atau flute tradisional
Minangkabau yang memukau itu ketika saya mainkan:
(Irman Syah, di Negeri Seribu Rumah Gadang Sumatera Barat)
Tulisan ini hanyalah catatan perjalanan kreativitas.
Sebuah evaluasi kedirian yang
takkan pernah menemukan kesempurnaan.
Hanya Penguasa Alam Semesta yang tahu dan bersekehendak
hati
menentukan segala sesuatuya:
Oleh: Irman Syah
Jika segala sesuatu yang dilakukan tidak memiliki tantangan
tentu rasanya juga akan terkesan hambar. Laksana sayur tanpa garam.
Ya. Tak ada citarasa yang
lekat dan tertinggal di kerongkongan.
Tantangan, ternyata juga
perlu diciptakan agar keberadaan agenda kegiatan yang dilakukan membuat
capaiannya akan bisa lebih berasa.
Tulisan ini akan mengisahkan
perjalanan kreatifitas sebuah komunitas. Kebetulan pula saya juga terlibat
sebagai konsultan kreatif dalam program-progamnya.
Komunitas Sastra Kalimalang
namanya. Menciptakan ruang publik menjadi ruang kultur konsep besarnya.
Lokasinya terletak di pinggir Kalimalang, tepatnya di samping Kampus
Universitas Islam '45 Bekasi, provinsi Jawa Barat.
Komunitas yang aktif
berkegiatan pada rentang tahun 2011 - 2016 ini termasuk kelompok yang fokus
untuk menjadikan sastra sebagai bahasa kebudayaan dan media edukasi kreatif
bagi masyarakat.
Dominasi program dan sasaran
dari kegiatannya antara lain adalah mendidik para pengamen dan bocah-bocah
lampu merah untuk lebih bisa mandiri.
Ketika program-program di atas telah berjalan dan mendapat
sambutan dari berbagai pihak maka terbetiklah keinginan untuk melaksanakan
event sastra yang lebih inovatif.
Selain agar dipandang tidak
terkesan biasa-biasa saja, maka disiapkanlah agenda dan konsepnya, yakni seni
yang melibatkan masyarakat. Untuk hal itu dipilihlah kegiatan yang lebih
memiliki tantangan, yakni: 'Puisi Masuk Kampung'.
Puisi Masuk Kampung:
Andaikan puisi masuk kampus,
atau puisi masuk sekolah tentulah tidak begitu sulit untuk dilaksanakan. Selain
materinya sudah ada dalam kurikulum, kelompoknya pun terorganisir dan gampang
ditemui. Lain halnya dengan tantangan puisi masuk kampung.
Nah. Kami pun berusaha untuk
mengira dan mereka-reka. Kemungkinan apa yang bakal tercipta bila program ini
dijalankan?
Pertanyaan selanjutnya
adalah, apa pula kira-kira tanggapan masyarakat jika rombongan anak jalanan
yang urakan itu masuk kampung dan berkegiatan di daerah yang ketat akan tradisi
dan adat-istiadatnya?
Untuk pertanyaan tersebut
jawabannya adalah: kita memang butuh tantangan karena tantanganlah yang mampu
membuat kita bisa lebih kreatif.
Maka, dengan berbekal modal
komunikasi secara lisan dengan seorang pemuda (mahasiswa) yang berasal dari
daerah tersebut akhirnya program ini pun segera dijalankan.
Prosesi:
Perjalanan rombongan
komunitas Sastra Kalimalang dari kota Bekasi akhirnya sampai di sebuah desa
yang kehidupan masyarakatnya lebih banyak bertani. Desa Suka Tani namanya. Ada
kesesuaian nama desa tersebut dengan kenyataan yang sesungguhnya. Daerah ini
masih termasuk wilayah Bekasi, tapi berada di kabupatennya.
Tentengan tas-gitar,
kotak-biola, jimbe, dan sound yang alakadarnya diturunkan dari bus 3/4 yang
disewa. Rombongan yang turun segera menuju mushalla. Semua peralatan sengaja
diletakkan dengan jalan mendirikannya di samping mushalla.
Rombongan Puisi Masuk Kampung
langsung beraktivitas. Pertama sekali mereka sengaja memilih aktivitas untuk
membersihkan toilet dan tempat mengambil air wuduk. Kemudian baru halaman
mushalla. Terlihat mereka dengan kesibukan yang tidak dibuat-buat membersihkan
wc, dan menyapu pekarangan.
Pemandangan ini tentu saja
terlihat aneh bagi masyarakat. Siapa mereka?
Gondrong dan bertattoo, gerangan apakah maksud kedatangannya?
Terlihat masyarakat kampung
itu seakan mengitip-intip saja dari jauh. Ada yang berdiri sambil menggendong
bayi, ada yang jongkok di depan rumah dan ada pula yang seperti acuh tak acuh
saja.
Mushalla yang Terasa Kosong:
Pas waktu shalat Zuhur masuk,
rombongan Puisi Masuk Kampung ikut shalat berjamaah di mushalla. Terasa sedikit
aneh, selain Imam tidak ada lagi orang kampung yang ikut shalat di mushalla.
Tapi hal ini tidak begitu pula menjadi pikiran anggota komunitas.
Yang terpenting, sesudah
shalat zuhur sound system mesti sudah menyala. Panggung apresiasi 'Puisi Masuk
Kampung' mesti dilangsungkan sesuai dengan apa yang dimaksudkan.
Mendengar suara sound system,
masyarakat yang tadinya ikut memperhatikan rombongan komunitas membersihkan
toilet dan tempat berwuduk dari jauh itu, kini mulai mengarah ke pusat suara.
Tapi, mereka tetap berdiri di kejauhan. Makin lama masyarakat itu semakin
banyak.
Sumber suara, dengan beragam
aktivitas mulai mempersiapkan diri. Menata panggung sederhana, memasang
backdrop, cheksound dan kemudian mendentingkan gitar:
"Yang jauh mendekat,
yang dekat merapat.. Ibu-ibu jangan jongkok, sebentar lagi ular akan
dikeluarkan."
Seperti terbius. Masyarakat
mulai mendekat satu-satu. Ada yang menggendong anaknya, turut mendekat pula.
Kemudian satu orang lagi. Lagi dan lagi. Akhirnya rombongan 'Puisi Masuk
Kampung' menyatu dengan masyarakat. Seni musik dan sastra mulai mengikatnya.
Menjelang Ashar, pertunjukan selesai. Rombongan 'Puisi Masuk
Kampung' kembali shalat ashar berjamaah. Tapi kini terasa lain: Mushalla penuh
sesak. Banyak sekali orang yang ikut shalat berjamaah di mushalla.
Masyarakat dan rombongan
'Puisi Masuk Kampung' telah berbaris dan membaur. Edukasi kreatif ini menjadi
kenangan yang sulit dilupakan.
Rohmantik,
28/3/2018 (Diupdate dari @mpugondrong Steemit)
Bekasi
Timur--Puisi tidak sebatas kata-kata. Begitu pun Komunitas Sastra Kalimalang.
Dari kampung ke kampung, mereka menghelat pertunjukkan. Mereka juga mengajak
masyarakat kerja bakti. Sabtu
kemarin,Sastra Kalimalang menjatuhkan Kampung Gamprit, Desa Sukakarya,
Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, sebagai lokasi pertama agenda
"Puisi Masuk Kampung".
Aku cinta kota patriot/ kota santri sejak dulu kala/
Jembatan kali Bekasi.. / jadi saksi nan abadi/:
Kota sarat perjuangan
Aku rela ke medan juang/ mempertahankan baghasasi/
Merah putih tetap berkibar / di tapal batas Bekasi..
Jarang-jarang memang sebuah kota memiliki lagu tersendiri
tentang kotanya. Apalagi sebuah lagu dengan teks yang kuat dan memiliki daya
ikat tersendiri dengan suasana alam serta kondisi sejarah yang dimilikinya. Inilah
Bekasi. Kota lain belum tentu, kalau pun ada, kebanyakanhanya memiliki lagu tentang keindahan alam
dan objek wisata yang dimilikinya dan itu pun jarang mempunyai kekuatan dengan
konteks sejarahnya. Tentu saja hal ini merupakan salah satu pemilikan yang
patut dibanggakan.
Meski pun kota Bekasi yang dulunya hanyalah sebuah kecamatan
dari Kabupaten Bekasi, tapi dengan perkembangannya yang sangat pesat akhirnya
ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif pada tahun 1982 dan kemudian
Kotamadya pada tahun 1996. Artinya di usianya yang telah 16th kota
ini semakin bercelak dengan perkembangannya. Bahkan pula menjadi bahan
ceritadari kabar media massa yang
selalu meliputnya. Beragam persoalan baik sisi positif atau pun negatif pun
dimunculkannya secara nasional.
Atas nama cinta, warga Bekasi tetap setia mencintai kotanya. Mereka
mendendangkan lagu ‘Aku Cinta Kota Bekasi’ karya Ali Roy (alm) dengan Ane
Matahari itu di berbagai tempat dan Event. Lagu ini pun menjadi sesuatu yang
popular dan mampu mengangkat kecintaan masyarakatnya akan kota ini dan juga penghargaan akan sejarah yang dimilikinya. Tak
dapat dibayangkan ketika lagu yang dipopularkan oleh Grup MLK Akustik dengan
Vokalis Jaka Persija Sampai Mati dan kawan-kawannya ini yang notabene pengamen
cilik lampu merah itu di berbagai tempat selalu mendapat sambutan plus dari
penontonya. Begitu pula tanggapan akan lagu ini di Youtube:
Ada dua cara pandang yang bisa ditilik untuk melihat kekuatan
dan kandungan karya yang dihasilkan dua tokoh musik yang setia membina
kawan-kawan KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) ini. Keduanya sangat berarti dan
juga bisa sebagai masukan bagi pemerintah kota Bekasi.
Pertama, Ali Roy (Alm) dan Ane Matahari yang telah
membuktikan rasa cintanya kepada warga kota terutama anak-anak yang terdampar
di jalanan yang kadang tidak bisa diketahui lagi tentang siapa orang tua
mereka. Kecintaan ini pun mereka buktikan dengan jalan edukasi kreatif, semacam
pendidikan kehidupan melalui sini musik sambil mengarahkan mereka pada hal yang
positif. Dengan begitu, keterlibatan anak-anak jalanan cilik untuk melakukan
hal yang tak pantas menjadi lebih berkurang. Kebiasaan jelek itu antara lain
kebiasaan mengisap lem Aibon dan lain sebagainya: karena yang demikian itu akan
membuat mereka tumbuh menjadi generasi sakit.
Kedua, lagu ini mampu menjadi citraan yang kuat terhadap kota
Bekasi dengan kandungan semangat atau spirit patriotik yang dimilikinya.
Kenyataan sejarah dari pendahulu negeri ini bisa dijadikan tolok-ukur
perkembangan nilai dn norma kota Bekasi serta program yang tepat bagi
kenyamanan kota ini ke depan. Dengan begitu, kesesuaian program pemerintah kota
dengan kenyataan yang bergerak di masyarakat akan menjadi sebuah bangunan
keseimbangan pada kemajuan dan perkembangan, baik ekonomi atau pun teknologi
komunikasi. Bukankah mereka, para tokoh pejuang dulu itu, yang dengan titik
darah penghabisan telah memancangkan sikap dengan jalan berbuat dan bertindak serta
usaha mereka dalam memahami dan membuktikan keberadaan Bekasi begitu jaya di
wilayah Nusantara.
Selamat ulang taun kota Bekasi, selamat kepada Walikotanya
yang telah dilantik tepat di usia kota yang tengah meremaja. Ya, di usianya
yang ababil (ABG labil). Selamat bekerja demi kepentingan masyarakat yang tak
perlu ditanyakan lagi akan cinta mereka terhadap kota patriot ini.
Gejolak kota
besar dan gemuruh budaya urban yang sensasional
membuat masyarakat Jakarta mesti mampu menghadapi tantangan
yang beragam dengan segala persoalan dan dinamikanya.
Video
yang diambil dari event Komunitas
Planet Senen ini adalah gambaran puitik yang sengaja saya hadirkan di
panggung komunitas yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Semoga sahabat dan handai tolan di mana pun berada dapat menikmatinya.
JAKARTA-JAKARTI
Kaukah itu lelaki bermata sayu berdiri
di simpang, menatap gadis-gadis berseliweran:
hai Upik, nomor berapa kutangmu?
Atau, kau hanya singgah sekedar
melemparkan parfum pasangan Belandamu,
tepat kucium di mulut botol yang tak henti kutenggak
Jakarta, katakan pada Jakarti, ganja di
lipatan kotak
mik-ap itu jangan dulu kau bakar.. tunggu pangeran
berkuda bersayap kampret dan berselendang merah
di gerbang rumahmu dengan genggaman mawar-api
yang meruyak di dadanya:
kini ia sedang berada di Senen, 5 detik
lagi Bekasi,
Bulungan, Cikini, Sudirman, Senayan, Cendana, dan
berakhir di Cipinang
Tepat! Di mulut rahim kihidupan yang
pernah kita gelar
bersama mimpi-mimpi panjang, dengan lenguh dan jerit
yang tak berkesudahan,
“huh hah huh hah..”
Jakarta, Jakarti menyampaikan salam
kepadamu
lewat keringatnya yang mengalir ke muara keringatku
Dan telpon pun berderingan:
“Halooo, Jakarta ya..”
“ha..?”
“ha..”
“hah he hoh..”
Yess tak keikon juancuk ! Ini Jakarti, Bapak Medan, Ibu Madura