Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

Penyair Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand, Pastikan Hadir di PPF 2022



Pembukaan Payakumbuh Poetry Festival 2022 tinggal menghitung hari. Sejumlah penyair dari tanah air dan negara tetangga dipastikan hadir pada festival puisi yang diadakan di Payakumbuh, 4-6 Desember 2022 mendatang itu.

Dari Indonesia akan hadir nama-nama seperti Saut Situmorang, Ahda Imran, Zen Hae, Esha Tegar Putra, Alpa Hambaly, Ni Made Purnama Sari, Irman Syah, Adri Sandra, dan banyak lagi.

Dari Filiphina akan hadir Dr. Michael M.Coroza, penulis peraih S.E.A Award 2017 dari Ateneo De Manila University, Philipina. Dari Vietnam akan datang penyair Ali Bao, serta Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan dari Songkla University, Thailand.

Masing-masing penyair akan mengisi berbagai agenda di PPF 2022. Mulai dari diskusi sastra, pertunjukan puisi, hingga sesi diskusi dengan siswa SMA Kota Payakumbuh dan Kab. Limapuluh Kota.

Direktur Payakumbuh Poetry Festifal 2022, S Metron Masdison berharap dengan bertemunya para sastrawan, terjadi perbincangan atau diskusi yang hangat dan produktif.

“Semoga ajang ini bisa menjadi pemantik untuk munculnya pemikiran-pemikiran segar mengenai sastra kita, dan sastra di Asia Tenggara umumnya,” katanya.

Ragam-ragam pertunjukan seni tradisi juga bakal dipersembahkan di sepanjang festival. Pengunjung bisa menyaksikan permainan Sampelong dari seniman tradisi Ahmad Yuslim. Juga ada Talempong Goyang dari Sanggar Lubuak Batang.

Vidio-vidio pemenang Sayembara Puisi Visual juga akan diputar. Musisi Payakumbuh Oche Pello dan Dighotal: The Mountain Dweller dari Bali turun ke gelanggang membunyikan puisi dalam pertunjukan puisi.

Lapak Buku-lapak buku bakal digelar sepanjang acara. Penyelenggara telah menyediakan stan-stan penjualan buku. Di sini pengunjung bisa membeli buku-buku sastra terbaru atau sekedar duduk ngobrol-ngobrol. Lokasi festival berpusat di Agamjua Art and Culture Caffe.

“Kawan-kawan yang ingin menjual buku-bukunya bisa langsung datang ke festival,” tambah Metron. Untuk informasi lebih jauh mengenai ketersediaan stan buku serta info lainnya silakan meluncur ke Instagram PPF 2022 @payakumbuh.poetryfest. (*)

(Sumber:https://katasumbar.com/penyair-indonesia-filipina-vietnam-dan-thailand-pastikan-hadir-di-ppf-2022/)

  

spacer

Mengarak Kitab Puisi Rohmantik Penyair Irman Syah

 

Penyair Irman Syah. (Foto: Dok. Irman Syah)

Selama tiga hari, kitab puisi Rohmantik karya Penyair Irman Syah “diarak” di tiga daerah di Sumatra Barat (Sumbar). Masing-masing, di Payakumbuh, Kayutanam dan Padang pada 22-24 Februari 2020.

Rohmantik adalah kitab puisi tunggal pertama Irman Syah, penyair nasional kelahiran Magek, 12 Oktober 1965 tersebut. Pada masing-masing titik itu, digelar diskusi dan kemudian diikuti pembacaan puisi dan pertunjukan seni.

Irman Syah mengatakan, ketiga tempat tersebut termasuk titik penting dalam perjalanan kreatifnya. Kitab puisinya tersebut diterbitkan oleh Jual Buku Sastra (Jbs) yang berbasis di Yogyakarta pada April 2019. Memuat 50 judul puisi yang ditulis lebih kurang 33 tahun ia berproses. Arak-arakan tersebut mengusung slogan “Poelang Kampus, Poelang ke Ragi”.

Di mulai di Kota Payakumbuh pada Sabtu siang, 22 Februari 2020, Komunitas Seni Intro menjadi tempat perdana yang dilaksanakannya diskusi kitab puisi Rohmantik. Hadir sebagai pembicara Romi Zarman, seorang penulis dan peneliti serta Yeni Purnama Sari, alumni IAIN Imam Bonjol Padang. Diskusi akan dimoderatori oleh seorang penyair, Ilham Yusardi.

Romi Zarman dalam makalahnya menjelaskan bahwa kelisanan kuat mempengaruhi Irman Syah. Puisi-puisi dalam buku Rohmantik juga tidak terlepas dari simbol-simbol itu.

Pada Sabtu malam (22/02/2020) pembacaan puisi dan pertunjukan seni digelar di Lawang Kafe, Limapuluh Kota. Sejumlah penyair dan seniman akan mengisi acara itu. Yakni, Sulaiman Juned, Indra Muhidin, Refdinal Muzan, Iyut Fitra, Muhammad Subhan, Okta Piliang, Adri Sandra, Ikhawanul Arif, Gus tf, S Metron M, dan penampilan Kelompok Legusa untuk musik puisi.

Esok harinya, pada Minggu siang (23/02/2020) diskusi Rohmantik bergerak ke Kayu Tanam, Padang Pariaman. Kegiatan dilaksanakan di INS Kayu Tanam dengan siswa-siswi. Di sekolah yang didirikan Muhammad Sjafei pada 31 Oktober 1926 lalu, Irman Syah pernah mengabdi sebagai guru sastra selama lima tahun (1993-1998).

“Diskusi bersama dengan siswa-siswa INS Kayu Tanam tentu punya makna khusus bagi diri saya. Saya pernah memberikan ilmu yang saya punya di sekolah ini selama lima tahun. Kegiatan di Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam barangkali penuh emosional, karena mereka, siswa-siswa yang bersama saya waktu itu sekarang sudah eksis dengan pilihan hidupnya,” kata Irman Syah, dalam siaran pers, Sabtu (22/2/2020).

Pada Minggu malam, giliran Kedai Buku Teroka di Padang yang menyambut kitab puisi Rohmantik. Sebuah kedai buku sekaligus ruang diskusi publik, yang didirikan para anak muda yang menaruh perhatian pada sastra, terletak di jalur utama menuju Kampus Limau Manih Unand. Hadir penyair yang baru menerbitkan buku puisi keempatnya, Esha Tegar Putra sebagai pembicara dan Nazrul Azwar, seorang jurnalis sekaligus sekjen AKSI sebagai moderator.

“Irman Syah adalah penyair jalanan yang satu jalur dengan Saut Sitompul. Indonesia tak banyak punya penyair seperti itu. Irman Syah adalah penyair yang membangun terminal bus di dalam Bahasa Indonesia,” ujar Heru Joni Putra, penyair yang juga salah satu pendiri Kedai Teroka.

Terakhir, pada hari Senin (24/2/2020), arak-arakan kitab puisi Rohmantik ditutup dengan pulang kampus ke Fakultas Ilmu Budaya Univeristas Andalas. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Labor Penulisan Kreatif dan Teater Langkah bekerjasama sebagai penyelenggara. Di Ruang Seminar  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand diskusi akan dihelat pada jam 13.00-15.00wib. Ada tiga pembicara yaitu, Dr. Fadlillah, M.Si, Ria Febrina, M. Hum, dan Yudilvan Habib Dt. Monti dengan moderator Sudarmoko, MA.

Pada malam harinya, pembacaan puisi dan pertunjukan seni dilaksanakan di Medan Nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya. Teater Langkah yang pernah didirikan oleh Irman Syah ini, akan unjuk gigi membawakan puisi-puisi dalam kitab puisi Rohmantik, serta pembacaan puisi dari seniman dan penyair di Kota Padang. (*/SS)

(https://langgam.id/mengarak-kitab-puisi-rohmantik-penyair-irman-syah/)

spacer

Inilah Jadwal Perjalanan Budaya Sastrawan Irman Syah di Sumbar

 

BEDAH KITAB PUISI "ROHMANTIK"

Sastrawan nasional Irman Syah, asal Sumatra Barat, melakukan perjalanan budaya selama 3 hari, sejak 22-24 Februari 2020 di tiga titik penting dalam perjalanan kretifnya, yaitu Payakumbuh, Kayutanam, dan Padang.   

Perjalanan kultural dengan moto “Poelang Kampus, Poelang ke Ragi ini diisi dengan perbincangan-diskusi  bedah buku puisi “Rohmantik” karya Irman Syah (JBS, 2019), dan diikuti dengan pembacaan puisi dan penampilan pertunjukan seni.      

Perjalanan kreatif dimulai di Kota Patakumbuh pada Sabtu siang, 22 Februari 2020, Komunitas Seni Intro membuka diskusi dengan bedah buku puisi “Rohmantik”, pembicara Romi Zarman dan Yeni Purnama Sari yang dijanangi Ilham Yusardi. Bedah buku ini dilaksanakan di Sekretariat Komunitas Intro Padang Tangah, Kota Payakumbuh.

Untuk penampilan pertunjukan seni digelar di di Lawang Kafe, Limapuluh Kota, Sabtu malam (22/2/2020) dengan penampil baca puisi Sulaiman Juned, Indra Muhidin, Refdinal Muzan, Iyut Fitra, Muhammad Subhan, Okta Piliang, Adri Sandra, Ikhawanul Arif, Gus tf, S Metron M, dan penampilan Kelompok Legusa untuk musik puisi.

Perjalanan Irman Syah dilanjutkan pada Minggu siang di Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam, Padang Pariaman dengan kegiatan serupa bersama siswa-siswa di sekolah yang didirikan tokoh pendidikan Muhammad Sjafei pada pada 31 Oktober 1926 lalu. Irman Syah sendiri tentu punya kenangan khusus terhadap INS Kayu Tanam ini karena pernah mengabdi sebagai guru sastra selama lima tahun (1993-1998).

“Diskusi bersama dengan siswa-siswa INS Kayu Tanam tentu punya makna khusus bagi diri saya. Saya pernah memberikan ilmu yang saya punya di sekolah ini selama lina tahun. Kegiatan di Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam barangkali penuh emosional karena mereka, siswa-siswa yang bersama saya waktu itu sekarang sudah eksis dengan pilihan hidupnya,” terang Irman Syah kepada sumbarsatu, Kamis (20/2/2020).

Pada Minggu malamnya, Irman Syah akan dijamu di Kedai Buku Teroka Padang. Sebuah kedai buku dan penerbitan, sekaligus ruang diskusi publik, yang didirikan para anak muda yang menaruh perhatian pada pemikiran kebudayaan di jalur utama Kampus Limau Manih Unand ini, membedah kitab puisi “Rohmantik” dengan narasumber Esha Tegar Putra dan moderator Nasrul Azwar. Sebelum bedah kitab puisi ini, ditampilkan pertunjukan seni dan baca puisi.

Esoknya, pada Senin (24/2/2020), pagi hingga siang diskusi dan bedah buku di Ruang Seminar  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand. Pada malamnya, pertunjukan seni di Medan Nan Balinduang FIB Universitas Andalas.

Irman Syah merupakan alumni kampus ini. Saat itu bernama Fakultas Sastra. Kehadiran dirinya  di FIB Unand ini, menurutnya, seperti pulang kampus. (SSC/Thendra)

PERJALANAN BUDAYA IRMAN SYAH

KOTA PAYAKUMBUH

SABTU, 22 Februari 2020

  • Diskusi/Bedah Buku Sabtu, 22 Februari 2020 di Komunitas Seni Intro Padang Tangah, Kota Payakumbuh pukul 13.30-15.30
  • Pembacaan Puisi/Performance Sabtu, 22 Februari 2020 di Lawang Café, waktu 20.00- 22.00

KAYUTANAM

MINGGU, 23 Februari 2020

  • Diskusi/Penampilan Seni Minggu, 23 Februari 2020 di Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam, pukul 13.30-15

KOTA PADANG

MINGGU, 23 Februari 2020 (MALAM)

  • Diskusi/Bedah Buku Minggu, 23 Februari 2020 di Kedai Buku Teroka Padang, 20.00- 22.00. Narasumber Esha  Tegar Putra., Janang Nasrul Azwar

FIB UNAND

  • Diskusi/Bedah Buku, Senin, 24 Februari 2020 di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas, pukul 13.00-15.00.  
  • Pembacaan Puisi/Performance Senin, 24 Februari 2020 di Medan Nan Balinduang FIB Universitas Andalas, pukul 20.00- 22.00

(https://sumbarsatu.com/berita/22463-inilah-jadwal-perjalanan-budaya-sastrawan-irman-syah-di-sumbar)

spacer

'Rohmantik Performance' dan Diskusi Kitab Puisi Irman Syah

Poelang Kampoes; Pulang ke Ragi!

‘Rohmantik Performance’ merupakan ramuan panggung puisi rohmantik yang modern dengan bahan  materialnya berangkat dari kekuatan tradisi seperti dendang, randai, kaba, gerak silat, serta tiupan bansi. Semua dikemas dalam pemanggungan kolaboratif yang unik dan komunikatif. Kadang penonton pun dapat hanyut dengan aliran pertunjukan dan bahkan terlibat mengarungi nada sambil mengikuti tempo musikal melalui rampak tepuk tangan. Begitu kata Irman Syah saat ditanya tentang apa itu Rohmantik Performance.

Dalam waktu dekat, pada 22, 23, dan 24 Februari mendatang, Irman Syah akan tampil dalam sebuah event yang disiapkan kawan-kawan komunitas di Padang dan Payakumbuh.  Acara ini merupakan sebuah perhelatan kecll terhadap Kitab Puisi Tunggal pertama Irman Syah setelah lebih kurang 33 tahun berkarya, berjudul Rohmantik.
Sebuah diskusi buku puisi dan pementasan karya Irman Syah ini akan digelar di beberapa tempat, antara lain; Jumat (22/2) Komunitas Seni Intro Payakumbuh (Pimpinan Iyut Fitra) https://steemit.com/indonesia/@mpugondrong/silaturrahmi-komunitas-seni-di-payakumbuh dengan Pembicara Romi Zarman dan Yeni Puurnamasari , serta Dendang puisi bertajuk Boekan Tamoe Rohmantik Performance di  Lawang Kafe (sebuah Kafe Baca yang menyenangkan di Payakumbuh) https://steemit.com/kopi/@mpugondrong/lawang-cafe-ngopi-baca-yang-menyenangkan
Pada keesokannya, Minggu (23/2), diskusi Rohmantik dengan tajuk ‘Poelang Kampoes; Pulang ke Ragi’, Esha Tegar Putra ditabik sebagai pembicara. Diskusi dan Rohmantik Performance ini akan dilangsungkan di Kedai Teroka | sebuah Kedai Buku Aternatif, Jalan DR Moh Hatta No 16, Binuang, Kp Dalam, Pauh, Kota Padang. Pada (24/2) akan diadakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang d kampus Limau Manis. Selain ini, untuk selanjutnya diskusi dan Rohmantik Performance juga akan direncanakan di Balai Balai Bahasa Sumatera Barat dan lainnya.
Irman Syah, selain dikenal sebagai penyair, juga aktor, blogger dan pekerja film. Ia beberapa kali menang dalam lomba penulisan puisi Indonesia di Padang, Malang dan Bali. Bahkan, salah satu cerpennya terpilih sebagai sepuluh terbaik pada ajang Mitra Praja Utama tingkat Nasional yang dilaksanakan Pemerintah DKI Jakarta tahun 2014 silam.
Kepenyairannya tercatat dalam beberapa buku dan leksikon, seperti; Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna), Leksikon Sastra Jakarta (DKJ), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste) dan Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan).
Penggerak dan gerilyawan seni budaya ini dalam aktivitasnya tak lepas dari gerakan komunitas perkotaan antara lain; Komunitas Janjang Payakumbuh (1999), Komunitas Panggung terbuka TBSU Medan (2001), Komunitas TIM Jakarta (2003), Warung Apresiasi Bulungan Jakarta (2002), Komunitas Sastrawan Jalanan Indonesia (2005), Komunitas Planet Senen (2008), Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia, Sastra Kalimalang Bekasi (2011) serta Roemah Melajoe TMII (2015).
Lelaki kelahiran Magek (Bukittinggi), yang juga Acting Coach (pelatih akting) di beberapa film layar lebar, yakni, “Di Bawah Lindungan Ka'bah”, “Pacu Itik”, dan “Buya Hamka” ini juga adalah seorang  actor di beberapa Film, antara lain; “Trophy Buffalo”, “Tasuruik”, “Pinokio”, dll. Keahliannya pada bidang ini sesungguhnya berakar dari kemampuan literasi yang dimilikinya. Selain alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, penulis puisi, esay dan cerpen, ia juga aktor dan penghuni Bumi Teater Padang, pimpinan Wisran Hadi.


Kembali ke Rohmantik, perhelatan kecil untuk kitab Puisi Irman Syah ini memang punya sejarahnya yang panjang. Mulai dari dialog-dialog dan alasan tersendiri bahwa tidak akan menerbitkan buku puisi tetap bertahan dan keputusan itu pun berlangsung cukup lama. Tapi sepuluh tahun kemudian, dengan beberapa kawan di Padang dan Payakumbuh soalan itu muncul lagi dan dialog pun sampai pada pembahasan dan pemetaan sastra Sumatera Barat.
Akhirnya, dari inisiatif beberapa kawan antara lain Ilham Yusardi, Fatris M Fais, Anafia Sakinah, yang notabene adalah generasi Fakultas Sastra Universitas Andalas dan Teater Langkah Unand, serta Indrian Koto yang juga punya andil untuk itu maka proses terciptanya Kitab Puisi ini pun berjalan. Artinya, untuk membukukan puisi ini, gagasan dan aplikasinya memang murni dari hasil sumbangsih yang luar biasa dari kawan-kawan dan berbagai pihak.
Rohmantik, Kitab Puisi Irman Syah ini diterbitkan oleh Penerbit JBS dan Balai Sastra pada 19 April 2019. Demikian papar Irman Syah. Dan perhelatan kecil yang akan dilangsungkan di Payakumbuh dan Padang ini pun juga dikonsep olah kawan-kawan dan disupport olah berbagai komunitas dan kelompok seni, serta pengampu literasi di Sumatera Barat, imbuhnya lagi.

“Bila puisi sampai pada pucuknya, niscaya kan berbuah petuah, ungkapan, peribahasa, tamsil-ibarat, kias dan banding, pepatah-petitih, atau patah dan pitih!” kata Irman Syah mengakhiri sambil mengacungkan tangannya dan berkata, “Betmen Poreper.” (Era/Rell)
Jakarta, 9 Februari 2020
spacer

Rohmantik Performance Irman Syah dalam “Gerilya di Negeri Bayang Merah”


‘Rohmantik Performance’ merupakan ramuan panggung puisi secara modern yang materialnya berangkat dari kekuatan tradisi seperti dendang, randai, kaba, gerak silat, serta tiupan bansi. Semua dikemas dalam pemanggungan yang unik dan komunikatif. Kadang penonton pun ikut hanyut dengan aliran pertunjukan dan bahkan terlibat mencipta nada sambil mengikuti tempo musikal melalui rampak tepuk tangan. Begitu kata Irman Syah saat ditanya tentang apa itu Rohmantik Performance.
spacer

Serdadu



Oleh Irman Syah)*

“Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira, bintara, atau tamtama
Tetap tentara..”


Tak terduga, lagu itu riuh bergema di ruangan panjang yang bangunannya terletak tidak begitu jauh dari sebuah Asrama Tentara di Jakarta. Tepuk tangan dan sorak-sorai serta ketukan-ketukan pada dipan kayu dan besi oleh para Veteran pasukan khusus yang cidera akibat perang itu pun lahir begitu saja karena riangnya.
spacer

Profil Ane Matahari

DENTING NADA DI UJUNG KATA


Oleh Irman Syah )*

Suku Kulit Muka Berminyak.

Laki-laki berkulit gelap, berambut panjang, bewokan, dan tubuhnya yang sedikit besar dan  kekar itu pernah duduk berlama-lama di terminal. Ini dilakukannya setiap hari dan berbulan-bulan lamanya. Dia datang dengan menyandang biola dan kemudian duduk berjam-jam hingga tengah malam, tentunya dengan sebotol bir yang setia menjadi teman di sampingnya. Gesekan biolanya membuat beberapa orang kawan di jalanan  bertanya-tanya. Siapakah dia?
spacer

Karya Sastrawan Lampung Masuk 10 Terbaik Temu Sastrawan MPU IX

 


Cerpen “Embun di Mata Wie” karya cerpenis Lampung menjadi salah satu di antara 10 cerpen terbaik Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) IX di Jakarta, 10-12 Oktober 2014. Ke-10 cerpen itu dipilih dari puluhan cerpnen lain karya peserta Temu Sastrawan MPU dengan tiga juri: Yanusa Nugroho, Linda Christanty, dan Kurnia Effendi.

“Saya tidak mengira kalau cerpen saya mendapat anugerah, apalagi tradisi penghargaan baru dimulai di Jakarta, setelah delapan tahun Temu Sastra MPU digelar,” kata Syaiful.

Selain cerpen Syaiful, 9 lainnya adalah karya terbaik adalah Chairil Gibran Ramadhan, Pudji Isdriani, Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten, Indrian Koto, Langit Amaravati, Irman Syah, N.K.D. Ayu Winastri, Yusri Fajar,  dan Ahmad Wayang.

Selain itu di bagian puisi, masih kata Syaiful, dua penyair Lampung ajuga mendapat penghargaan yaitu Isbedy Stiawan ZS dan Alya Salaisha.

“Juri puisinya adalah Abdul Hadi WM, Maman Mahayana, dan Medy Loekito,”kata Syaiful.

Selain Isbedy dan Alya, penyair lain yang memeroleh penghargaan adalah Edwar Maulana, Hamdy Salad, Mustofa W. Hasyim, Ulfatin Ch, Cok Sawitri, Husnusl Khuluki, dan Heryus Saputro.

Syaiful mengatakan, berdasarkan kesepakatan para peserta Temu Sastra MPU di Jakarta,  Temu Sastra MPU tahun 2015 akan digelar  di NTT, sedangkan tahun 2016 di Bali.

(Sumber: https://teraslampung.com/karya-sastrawan-lampung-masuk-10)

spacer

Biodata Singkat


IRMAN SYAH, Lahir di Magek (Bukittinggi) 2 Oktober 1965. SD dan MTsN  diselesaikannya di Kampung Halaman (Tilatang Kamang). Terus ke MAN Koto Baru Padang Panjang jurusan IPA tapi menamatkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, Jurusan Sastra Indonesia, Program Studi Sastra dan Filsafat. Pendiri Teater LANGKAH (Unand/1987) ini juga pencetus berdirinya KPS (Kelompok Penulis Situjuh/1988) Unand, Koordinator dangau seni RELL (Sanggar Penulisan dan Pementasan/1989). 
spacer

 


Indonesia lahir dari puisi. Teks Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 1928 adalah puisi, yang berisi tentang imajinasi Indonesia yang satu.

Pernyataan ini disampaikan penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pidato sastra mengenang Chairil Anwar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (23/5) malam.

"Ketika para pemuda itu mencetuskan Sumpah Pemuda, Indonesia belum ada, masih dalam bentuk imajinasi. Dalam puisi, imajinasi adalah hal utama. Bangsa ini lahir dari pusi," kata Sutardji, penyair yang mendapat julukan "Presiden Penyair Indonesia."

Sutardji dalam pidato sastranya secara khusus menyanpaikan kepenyair Chairil Anwar. Sebagai tokoh penting sastra modern Indonesia. "Chairil adalah penyair pesanan, yaitu penyair yang dipesan oleh zamannya," lanjut Sutardji, penyair kelahiran rengat Riau.

Chairil Anwar yang lahir di Medan pada 1922 dan meninggal dunia dalam usia 27 tahun, menurut Sutardji adalah pahlawan puisi Indonesia. "Dia menjadi pahlawan dan dikenal karena puisi dan kepenyairannya. Bukan dikenal sebagai tokoh-tokoh lain di luar sebagai penyair," kata Sutardji seolah menyindir.

Acara "Mengenang Chairil Anwar" selain diisi dengan pidato sastra juga pembacaan puisi dan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar oleh penyair Irman Syah, Hanna Fransisca, Fathin Hamamah, Leon Agusta, Joserizal Manua, Deavies Sanggar Matahari, dan Lab Musik.  Di hari yang sama juga digelar diskusi tentang Chairil bersama pembicara Nur Zen Hae dan Adi Wicaksono.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno mengatakan lembaganya akan menggelar secara rutin membincangkan karya-karya sastrawan Indonesia baik yang sudah almarhum maupun yang masih hidup. "Kita ingin mengakrabkan kembali puisi dengan publik," kata Irawan Karseno.

(Sumber:https://www.jendelasastra.com/berita/pidato-sastra-sutardji-c-bachri-indonesia-lahir-dari-puisi?page=1%2C0%2C2%2C5)

spacer

Puisi Masuk Kampung, Bahasa Kebudayaan ala Sastra Kalimalang


Bekasi Timur--Puisi tidak sebatas kata-kata. Begitu pun Komunitas Sastra Kalimalang. Dari kampung ke kampung, mereka menghelat pertunjukkan. Mereka juga mengajak masyarakat kerja bakti.

Sabtu kemarin,Sastra Kalimalang menjatuhkan Kampung Gamprit, Desa Sukakarya, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, sebagai lokasi pertama agenda "Puisi Masuk Kampung".
spacer

Penyair Korsel baca puisi di PPN Jambi

 

Penyair Irman Syah

"Selain penyair Korea Selatan, perwakilan penyair dari Malaysia dan Thailand juga akan tampil membaca puisinya....." 

Panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI Jambi mengungkapkan penyair Korea Selatan yang telah memastikan diri hadir pada helatan penyair se-Asia Tenggara akan tampil membaca puisi di panggung ekspresi.

"Penyair Korea Selatan, Eom Gangsim akan turut tampil mengisi panggung malam ekspresi pembacaan puisi oleh penyair pada 30 Desember mendatang bersama para penyair Asia Tenggara dan Indonesia lainnya secara bergiliran," kata sekretaris PPN VI Jumardi Putra di Jambi, Rabu.

Publik selama ini lebih akrab tarian Gangnam Style, K-Pop, boyband, atau fesyen dan sinetronnya semata, padahal Korea pun punya penyair dan sastra yang kuat yang patut diapresiasi.

Selain penyair Korea Selatan, kata Jumardi, perwakilan penyair dari Malaysia dan Thailand juga akan tampil membaca puisinya.

Dari Tanah Air sedikitnya akan tampil 15 penyair seperti deklamator handal Asrizal Noor dari Jakarta, Tan Lio Ie dari Bali, penyair legendaris Sutardji Colzoum Bachri, penyair Irman Syah dari Sumbar dan D Kemalawati dari Aceh.

Sementara dari Jambi empat orang penyair juga akan tampil seperti Dimas Arika Mihardja, Ary Mhs Ce'gu dan penyair bertopeng Yupnical Saketi.

Mereka memang dikenal juga sebagai deklamator (pembaca puisi) yang handal selain sebagai penulis puisi, ujar Jumardi.

Pertunjukan pembacaan puisi juga akan digelar di komplek percandian Muarojambi, bahkan ada pertunjukan baca puisi di atas perahu wisata menyusuri Sungai batanghari dari Tanggo Rajo kota Jambi sampai ke komplek percandian.

Peserta PPN di Jambi yang akan berlangsung 28-31 Desember 2012 itu diperkirakan mencapai 300 orang.

Selain pertunjukan baca puisi yang diberi tajuk "Internasional Poets Gathering", sebagai materi utama adalah seminar kesastraan nusantara yang akan menampilkan para pemakalah dari negara-negara peserta.(Ant)

(https://jambi.antaranews.com/berita/299258/penyair-korsel-baca-puisi-di-ppn-jambi)

spacer

Irman Syah

(PENYAIR, AKTOR DAN PERFORMER) 

Kelahiran Magek 1965 ini menamatkan SD Sawahladang 1 di Ambacang Magek Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, MTsN (Madrasah Tsanawiyah Negeri) Bukit Bunian Bukareh yang juga di Kampung Halamannya.  Setelah itu melanjutkan sekolah di MAN (Madrasah Aliah Negeri) Kotobaru Padangpanjang dan terpilih untuk menduduku bangku pelajaran di Jurusan IPA, tapi pendidikan terakhirnya malah ia tamatkan di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang: Program Study Sastra dan Filsafat..
spacer

Dari Penulis Kamar Menuju Penulis Panggung

Para penulis cerita pendek di majalah Anita (kemudian menjadi Anita Cemerlang), yang popular tahun 1980-an bisa dibilang merupakan “penulis kamar” yang dikenal orang ketika karyanya dimuat di media. Begitu tahu dimuat, mereka membeli dan membicarakan dengan teman-temannya di sekolah atau kampus. “Sudah saatnya kesan itu diubah.

Para penulis Anita masih eksis dan banyak yang terus berkarya, dengan kualitas yang tak berubah bahkan bertambah. Tiba saatnya “penulis kamar” itu tampil kembali dan menjadi “penulis panggung” atau komunitas”, ujar cerpenis Kurnia Effendi di sela acara Sastra Reboan #12 di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (25/03) kemarin.

Malam itu, di acara yang digelar secara rutin oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) pada hari Rabu di akhir bulan, sebanyak 25 penulis cerpen Anita datang dan mengisi acara. Aroma nostalgia begitu kental dari para penulis ini, dengan jabat tangan, pelukan dan foto bersama. Namun mereka tak sekedar bernostalgia, karena selain ikatan emosinal yang begitu kuat juga keinginan untuk terus berkarya bersama, hingga akhirnya membentuk Asosiasi Penulis Cerita (Anita) yang dipimpin oleh Kef, panggilan akrab Kurnia Effendi.

“Saat ini sudah 140 orang yang terjerat datanya dari seluruh Indonesia,” ujar Kef yang sudah menyiapkan serangkaian program bagi asosiasi ini. Salah satunya dengan penerbitan buku antologi cerpen edisi koleksi Anita Cemerlang, yang memuat karya 55 cerpenis seperti pertama kali dimuat. Sedangkan menyambut Hari Kartini, 21 April karya 10 cerpenis akan ditampilkan di salah satu majalah wanita.

Rendezvous Tema “Rendezvous” yang diusung Sastra Reboan #12 rupanya mengena juga dalam kenyataan. Rendezvous dengan sesama penulis tak hanya dinikmati para cerpenis Anita saja. Mereka yang hampir setiap hari berbincang di dunia maya lewat Face Book juga mewarnai malam itu, selain dari berbagai komunitas seperti kemudian.com, apresiasi sastra dan Bunga Matahari. Seperti Andreas F.Wong yang baru saja datang dari Palembang atau Rory Suryo yang keduanya tampil membaca puisi.

Maka begitu acara mulai bergulir, yang dibuka dengan senandung lagu lama “Juwita Malam” oleh Budhi Setyawan dan Nina Yuliana sebagai MC, lebih dari 100 pengunjung segera bertepuk tangan. Pembukaan yang menyegarkan para pengunjung yang telah bersusah payah menembus macetnya jalan di tengah guyuran hujan.

Penampil pertama adalah penyair Gemi Mohawk yang membaca salah satu puisinya dari buku “Sirami Jakarta Dengan Cinta”. Puisi terus mengalir. Mulai dari Khrisnapabicara, MC, Budhi Setyawan yang memang penyair dengan karyanya “Pengasihan” dan “Malam Pertama”, Setyo Bardono yang membawakan “Serangkaian Puisi Kereta” (gabungan 5 puisi digandeng kayak gerbong, ujarnya) serta Andreas T.Wong yang baru saja datang dari Palembang dengan puisi “Malin Kundang”, “Membela Diri”, “Pemilik Bumi” dan “Sebait Waktu”.

Di tengah bergulirnya acara dan terus mengalirnya pengunjung, diberikan door prize berupa buku karya Budhi Setyawan dan Kirana Kejora. Penyair Slamet Widodo tampak datang bersama cerpenis Eka Kurniawan dan Triyono Tiwikromo. “Baru rapat nih, mas”, ujar Triyono yang baru pertama kali menyaksikan Sastra Reboan.

Sastrawan lainnya yang tampak hadir adalah Yonathan Raharjo, Pakcik Ahmad, Imam Maarif dan Nuruddin Asyhadie Bengkel Sastra Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kemudian tampil membawakan musikalisasi puisi, salah satunya dari karya Radhar Panca Dahana. Mereka tampil pertama kali di Sastra Reboan, seperti halnya Kartika Kusworatri yang membawakan dua puisinya dan Tory Suryo dengan 3 puisinya.

Cerpenis, Ana Mustamin yang nama penanya Ryana Mustamin kemudian tampil di panggung, tapi bukan membaca cerpen. Kali ini sebagai Kepala Departemen Komunikasi AJB Bumiputera 1912 yang menjelaskan tentang Lomba Penulisan Cerpen dan Lomba Penulisan Esai sebagai bagian dari ulangtahun ke-97 perusahaan asuransi tertua di Indonesia ini.

Kedua jenis lomba itu diadakan bekerjasama dengan PaSar MaLam. “Kami selalu peduli pada dunia kreativitas, termasuk tulis menulis, seperti pada penyelengaraan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Kali ini Bumiputera mengajak para pecinta sastra untuk turut dalam penulisan cerpen, dan para blogger untuk esai”, ujarnya ketika ditanya Ketua PaSar MaLam, Johannes Sugianto dalam dialog singkat di panggung.

Usai dialog itu, Kurnia Effendi langsung didaulat oleh MC untuk memulai penampilan para penulis Anita. Dalam pengantarnya, Kef mencatat tiga hal istimewa untuk Sastra Reboan kali ini. “Pertama, ini acara keduabelas, artinya April mendatang genap sudah setahun usia Sastra Reboan. Kedua, dengan peluncuran Lomba Cerpen dan Esai di sini, PaSar MaLam sebagai komunitas yang baru lahir setahun lalu bergandeng tangan dengan Bumiputera yang lahir 1912.

Seperti kakek dengan cucunya. Ketiga, para penulis Anita berkumpul malam ini setelah Februari lalu sepakat membentuk asosiasi”, kata Kef. Maka sang komandan ini lalu memanggil para penulis itu, yang dimulai oleh Putra Gara dengan membacakan petikan novelnya, disusul pembacaan puisi oleh Susy Ayu dengan “Isi Hati Laki-laki yang Mencintaiku”, Reni Erina (Pada Suatu Ketika), Dony Indra (Ritus Larut Malam) dan Sutan Iwan Soekri Munaf (Sayap Retak). “Grogi juga, mas. Makanya tidak jadi baca cerpen tapi puisi saja,” kata Susy Ayu. Hal serupa juga dikatakan oleh Reni Erina yang sudah 15 tahun tak pernah naik panggung.

Kemudian pentolan Komunitas Planet Senen, Irman Syah membacakan salah satu karya Sutan Iwan yang berjudul “Surat Pendek”. Pengarang novel “Ali Topan Anak Jalanan”, Teguh Esha juga membawakan puisi Sutan Iwan yang berjudul Mata Sepi dan puisinya sendiri Tembang Untuk Slamet Widodo.

(Sumber:https://money.kompas.com/read/2009/03/28/09072078/dari-penulis-kamar-menuju-penulis-panggung)



spacer

Malam Ini Hamsad Rangkutu Baca Cerpen

 

Temu Sastrawan Indonesia 1 Jambi

Para sastrawan dan seniman yang berkumpul mengadakan Temu Sastrawan Indonesia I, Rabu (9/7) malam ini di Taman Budaya Provinsi Jambi, di Kota Jambi, menggelar berbagai pertunjukan di Panggung Apresiasi.

Sejumlah penyair terkemuka akan membacakan karya-karyanya seperti Irman Syah, EM Yogiswara, Asrizal Nur, Tan Lioe Ie, Thumson HS, dan Pendra Darmawan. Musikalisasi puisi oleh Teater Oranye dan Teater Alif.

Kesenian tradisional juga mendapat tempat. Teater Tutut Senandung Jolo dari Kabupaten Muaro Jambi dan Teater Tutur K'ba dari Kabupaten Kerinci, tampil agar bisa diapresiasi oleh sekitar 200 sastrawan yang hadir pada Temu Sastrawan Indonesia, yang akan berakhir Jumat (11/7). Selain itu juga ada tari khas Jambi oleh Sanggar Sekintang Dayo.

Sastrawan Hamsad Rangkuti akan membacakan cerita pendek "Sukri Membawa Pisau Belati", yang ditulis tahun 1981 dan direvisi di Jambi, 9 Juli 2008. Sastrawan yang pernah memperoleh Penghargaan Sastra Khatulistiwa tahun 2003 dan mendapat kesempatan menghadiri pertemuan penulis dunia di London, sangat dikagumi banyak guru-guru dan peminat sastra di Kota Jambi. "Cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti sangat menarik, apalagi dibacakan langsung olehnya. Peminat sastra bisa belajar langsung darinya," kata Ratna, cerpenis dari Jambi.

Hamsad Rangkuti mengatakan, peminat sastra Indonesia selain bisa menyaksikan langsung ia baca cerpen, juga bisa membaca sekitar 60 cerpen terpilih karyanya melalui telepon seluler, dengan cara mengetik MOB (kode konten) dan kirim ke 9788. "Informasi download mobile book Hamsad Rangkuti ke 02131908070," kata Hamsad Rangkuti, yang belakangan agenda memenuhi undangan ke berbagai daerah sangat padat. Usai baca cerpen di Jambi, Hamsad tanggal 13 Juli ada kegiatan pelatihan sastra di Palangkaraya.

Sumber: 
https://nasional.kompas.com/read/2008/07/09/14542524/malam-ini-hamsad-rangkuti-baca-cerpen.
spacer